Pages

Saturday, July 8, 2017

Jalan Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 2)


Sekitar pukul 8.00 pagi, aku dan adik mendarat di Tan Son Nhat International Airport- Saigon.
PS: Saigon adalah nama lama dari Ho Chi Minh City (HCMC). Kayak Ujung Pandang adalah nama lamanya Makassar.

Hal pertama yang dilakukan adalah menukar dollar ke Vietnam dong (VND). Menurut para pendahulu, nilai tukar di bandara pun bagus kalo di Vietnam ini.
Sekedar perbandingan, saat itu 1 USD=13.100 IDR dan 1 USD=22.600 VND.

Karena hotel bookingan baru terima check-in pukul 14.00, kami memutuskan jalan-jalan dulu sambil mikul ransel. Dalam perjalanan ini kita memang gak bawa koper biar hemat dan gak ngerepotin diri sendiri huehe.

Kenapa hemat? Karena gak perlu beli bagasi AirAsia (tiket belum include bagasi, kecuali bagasi kabin). Selain itu, kapasitas muatan ransel akan mencegah kita dari belanja banyak-banyak (jadi no space buat oleh-oleh hahaha).

Ah sekalian cerita tentang ransel.
Sebelum berangkat aku sempatkan berburu ransel. Kriteria ransel idamanku adalah:
1. Ukuran sedang-sedang saja
2. Bisa diseret alias ada rodanya (pundakku rapuh, mas..)
3. Resletingnya kayak model koper (jadi kalau mau ngambil barang di bagian bawah gak perlu bongkar yang atas)
4. Murah.

Dan aku menemukan ransel yang memenuhi semua kriteria di atas di Matahari dengan diskon yang berlipat-lipat! Yeay! Stok terakhir pula. Yeay yeay!

Oke. Lanjut cerita.
Dari bandara kami minta diantar oleh abang taksi ke Independent Palace. Enaknya di sini, tempat-tempat tujuan turis berkumpul di satu area, jadi untuk berpindah-pindah nantinya kita cukup berjalan kaki saja.

Dan.. Ah, aku sudah tak sabar mengomentari bagian ini: para pengemudi di HCMC itu… GILA.

Jadi, seperti di kita, pengendara motor adalah yang terbanyak memenuhi jalan. Nah, gilanya apa? Gilanya adalah mereka pantang injak rem!

Kalo mau belok, jangankan ngasih lampu sein/sign, mengurangi gas aja tidak. Kalo ada pejalan kaki mau menyeberang, bukannya ngasih kesempatan, mereka malah makin terpacu menggilas kita.
Jalan raya, trotoar, teras rumah orang, semua punyanya pengendara motor. Sering banget terjadi kita lagi sante-sante jalan kaki di trotoar, trus kita diklakson dari belakang sama motor yang ikutan naik trotoar. Iyuh.

Lalu gimana cara menyeberang jalan di HCMC?
Kami perhatikan pejalan kaki lokal, wah mereka juga pantang ngerem. Mereka bisa menyeberang dengan mantap dan pandangan lurus ke depan. Hebatnya, motor-motor malah ngasih jalan daripada kalau kita menyeberang ragu-ragu. Aku jadi berpikir dengan sotoy-ku, apa ini ada kaitannya dengan paham komunis yang mereka anut? Kok semua orang merasa jalan punya nenek moyang mereka ya?

Ah ya. Aku juga ingin cerita tentang pengalaman naik taksi di Vietnam.
Setelah sepakat dengan harga (taksi di sini perlu ditawar-kata pendahulu), masuklah kita ke taksinya. Baru aja masuk, kita langsung disuruh bayar.

??!!
 
Okelah, kita pikir mungkin budaya di sini bayar taksinya di awal. Trus aku ngeluarin dompet. Eh si bapak malah minta aku mengeluarkan SEMUA uang yang aku punya dari dompetku.

Hm, aku mulai mencium aroma perampokan.

Tangannya udah terjulur mau ngambil dompetku. Dompet langsung kutarik dan aku beranjak keluar dari taksi. Si bapak lalu bilang “don’t worry don’t worry”.
Masak iya orang gak worry?

Usut punya usut, ternyata bapak itu mau lihat aku punya lembaran uang berapa aja, karena dia gak punya kembalian kalo uangnya agak gedean.
Hm.

Drama pun berakhir dengan dia mengoper kami ke taksi temennya.
Dan temennya itu adalah taksi ter ugal-ugalan yang pernah aku naiki.

Independent Palace
Masuk ke Independent Palace, kami dikenakan biaya 40.000 VND perorang. Masuk ke museum ini, kami lebih tertarik memperhatikan gaya pengunjung museum daripada isi museumnya hahah

Jadi dalam pengamatan kami yang singkat dan tak dapat dipertanggungjawabkan, kami berkesimpulan kalo cewek-cewek Vietnam di museum itu semua cantik, langsing, kinclong, rambut lurus, ber-dress kece, makeup on!

Dan ternyata setelah keluar dari museum pun, cewek-cewek Vietnam yang kami temui semua cantik, langsing, kinclong, rambut lurus, ber-dress kece, makeup on! Di mana pun loh.
Cowok-cowok pasti seneng deh cuci mata di sini.
Tapi cowok-cowok Vietnam kok kurang menggiurkan ya. #kecewa

Keluar dari museum, kita nyobain es krim yang dijual mas-mas Vietnam pake sepeda. Harganya 10.000 VND. Baru kujilat tiga kali, eh jatuh ke tanah. Hiks. Padahal rasa esnya bikin nostalgia sama es tontong yang sering kubeli pas masih SD di kampungku.

Es tontong Vietnam

Sambil cari makan, kita jalan kaki ke Notre-Dame Cathedral yang jaraknya sekitar 100 meter dari Independent Palace.

Notre-Dame Cathedral
Keren ya gerejanya? Gereja ini juga punya jam kunjungan untuk turis. Kita datang di luar jam kunjungan sebenernya, tapi dikasih masuk karena mau berdoa xixixi #thepowerofprayer

Well, makanan Vietnam yang paling wajib dicoba itu katanya Pho- sejenis mie kuah. Kita pun memilih tempat makan Pho yang tampak rame di depan katedral. Rame artinya bisa tiga: enak rasanya, murah harganya, atau enak rasanya dan murah harganya.


Foto kurang bagus karena diambil dengan gak niat alias lapar
Setelah makan kami jalan kaki ke Le Le Hotel, 15 menitan lah. Di perjalanan, ketemu sama Ben Thanh Market. Katanya ini salah satu must visit place di HCMC. Tapi kita cuma masuk 10 menit terus keluar, karena rasanya gak beda sama Pasar Mandonga (orang Kendari pasti tau huehe)

Ben Thanh Market
Dan ini hotel kami. Le Le Hotel. Bookingnya kamar untuk berdua, pas datang dikasih kamar buat bertiga. Aseeek. Tapi ada kecowaknya sebiji. Mungkin maksudnya disuruh bertiga sama si kecowak :(

Room fits to three - Le Le Hotel
Setelah bobok, mandi, kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi. Ternyata di sini bisa pake aplikasi Grab yang sama dengan Indonesia. Ah, menolong sekali.

Sama abang Grab, kami minta diturunkan di Central Post Office. Sebenarnya tempat ini tetanggaan sama katedral yang kami datangi tadi siang. Tapi tadi siang udah gak mampu explore lebih banyak… Capek mak pikul ransel! #sokbackpackertapijiwakoper

Oya, Vietnam adalah negara bekas jajahan Perancis sehingga bisa diliat arsitektur bangunan bersejarahnya agak keeropa-eropaan. Di Vietnam juga banyak bendera bergambar palu arit berkibar karena itulah paham yang mereka anut.

Central Post Office yang masih menjalankan tugasnya sebagai kantor pos (maaf tidak informatif hahaha)
Di sebelah Post Office ada gerai McDonald. Tiba-tiba aku dan adik sehati pengen nyobain menu McD Vietnam. Eh ternyata saudara-saudara, ada menu “haram”nya! #hore #selamatmakan
 
Setelah kenyang wifi, eh McD, kami kembali berjalan kaki mencari objek berikutnya. Berbekal peta dari hotel, kami sampai ke People’s Committee.

People's Comittee. Itu di depan patung Pak Ho Chi Minh

Terus jalan kaki lagi ke Saigon Opera House…

Saigon Opera House

Terus jalan kaki lagi ke Saigon Riverside…

#gakadafotonya #gelap #hitam

Btw banyak banget pasangan mojok di pinggir kali ini. Ada belasan tempat duduk menghadap ke sungai, semuanya penuh diisi orang pacaran. Herannya, orang-orang ini kok tahan ya padahal sungainya beraroma got. Inikah kekuatan cinta?

Kemudian kami jalan lagi ke Benh Thanh Market. Katanya kalo malam berubah jadi Night Market. Kirain bakal banyak makanan seperti pasar malam pada umumnya, gak taunya isinya pedagang baju tok.

Dari Night Market, jalan kaki 5 menit nyampe di Le Le Hotel.

Begitu nyampe, kami mulai mencari tiket bus (via online) untuk berangkat ke Phnom Penh-Kamboja besok paginya. Kukira akan mudah mendapat tiketnya. Eh udah browsing 2 jam, gak ketemu juga. Abang resepsionis hotel juga bilang “telat mbak, baru nyari sekarang”.

Akhirnya kami nemu tiket bus, tapi berangkatnya siang. Yah, padahal di jalan itu akan memakan waktu 8 jam. Otomatis itinerary pun bergeser semua. Penginapan juga jadi harus nambah semalam (di Phnom Penh). 

Ya sudahlah ya. Namanya juga jalan sendiri. Kurang persiapan ya salah sendiri. Gak ada tur. Gak ada yang bantu. Adanya cuma adik gendut yang untungnya lucu. 

Bersambung ke Kamboja 😀

0 komentar :