Pages

Saturday, July 15, 2017

Jalan Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 3)

Hari ketiga.
Siang-siang sekitar pukul 12.00, kami dijemput di Le Le Hotel oleh pegawai agen Hang Tep Bus. Dua bapak-bapak berseragam itu menjemput kami dengan dua motor.
Aku menggendong ranselku. Belum duduk enak, si bapak udah tancap gas. Aku gak biasa naik motor tanpa helm. Aku agak mencemaskan kepalaku. Si bapak memotong jalan dengan masuk ke gang-gang sempit, pantang ngerem kalo gak terdesak.
Hiii lega rasanya pas nyampe di kantor agen.

Setelah menunggu 5 menitan, bus kami berangkat. Lama tempuh HCMC-Phnom Penh sekitar 8 jam.
Jalan mulus dan sepi dengan pemandangan sapi, sawah, dan rumah-rumah panggung. Mirip-mirip lah kayak naik bus antarkota di Sulawesi.

Di perbatasan Vietnam-Kamboja, paspor kami dikumpulin sama kondektur bus. Paspor lalu dibawa ke petugas imigrasi, dicap, lalu dikembalikan dengan memanggil nama kami satu persatu. Wah sante banget ya ini imigrasi hahaha

Masih sore-sore, beberapa menit dari perbatasan, kami diturunkan di rumah makan. Oke, makanan pertama di Kamboja. Rasanya kayak apa ya.. Kayak rich of rempah-rempah (gak tau mengomentari makanan, tapi enak).

Oh ya, di menunya tercantum harga dalam riel (KHR), dong (VND), dan dolar (USD). Tapi pas kita bayar pake KHR, gak diterima sama ibu kasir. Padahal itu mata uang mereka loh. Si ibu malah minta dibayar dengan USD. Begitu dibayar pake USD, kembaliannya dikasih KHR. Hm…

Sekitar pukul 20.00 kami sampai di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Turun dari bus, penumpang langsung dikerubutin sama tuk-tuk driver. Tuk-tuk itu kayak bentor alias becak motor di kita.

Kami lalu menawar tuk-tuk.
“Berapa mas sampe ke sini?” sambil menyodorkan kertas berisi alamat penginapan.
“Oh 6 dolar aja, mbak”
“3 dolar aja ya mas”
“Hahaha gak bisa mbak, 6 dolar”

Sebenarnya waktu masih di bus, kami sudah sempat bertanya ke salah seorang penumpang lokal berapa range harga tuk-tuk ke penginapan kami. Dibilangnya memang sekitar 5-6 USD sih hahaha

Tapi ternyata deket loh penginapannya. #ugh

Malam itu kami tinggal di #10 Lakeside Guesthouse yang kami book malam sebelumnya via Booking.com. Dapet kamar di lantai 4 dengan view ladang dan bintang. Manis sekali.
Ah ya, nginapnya cuma 9 USD loh (sekitar 120 ribu IDR) xixixi

Yaampun, langsung berantakan aja


Setelah mandi, kami turun ke bawah untuk nyari wifi dan makan. Selama perjalanan kami memang hanya mengandalkan fasilitas wifi untuk bisa laporan ke mamak bapak. Males lah kalo harus habis seratus ribu perhari demi paket internet.

Keesokan harinya.
Bangun pagi-pagi, sarapan, dan siap-siap dijemput sama Mas Saswi. Oya, Mas Saswi ini adalah driver tuktuk semalam huehehe. Si Mas nawarin tur keliling Phnom Penh dengan 20 USD. Pas dah, daripada paginya baru kalang-kabut nyari transport.

Oleh Mas Saswi kami diajak berkeliling kota. 

Statue of King Father Norodom Sihanouk - salah satu raja kamboja yang sangat berpengaruh di masa lampau

Independence Monument - dibangun setelah merdeka dari Perancis pada tahun 1953

Tempat apa ya ini? The Royal Palace? Aku lupa hahaha

National Museum of Cambodia
Dan kunjungan yang paling melekat di hati: Choeung Euk Genocidal Center dan Tuol Sleng.

Salah satu yang bikin kami tertarik ikut tur Mas Saswi adalah karena dia menawarkan kunjungan ke tempat pembantaian.

Aku gak begitu ngerti sejarah. Tapi adikku yang pendoyan masa lalu itu, begitu mendengar sebutan “Red Khmer” langsung oke tanpa nawar.



Sesuai namanya, Genocidal Center. Artinya, tempat-tempat pembantaian lain yang lebih kecil sebetulnya banyak tersebar di Kamboja. Tapi di sinilah pusatnya.

3 USD untuk masuk ke dalam. 6 USD kalau mau pakai audio. Bagus sekali cara orang-orang ini menjaga ketenangan situs. Guide disediakan hanya dalam bentuk audio, pake headset. Baik petugas dan pengunjung memang tidak boleh ribut-ribut untuk menghormati para korban pembantaian.

Pernah dengar tentang Khmer Merah?

Singkat cerita, lepas dari Perang Vietnam, partai komunis mengambil alih kuasa atas Kamboja. Partai komunis yang dipimpin oleh Pol Pot tersebut berjaya sepanjang tahun 1975-1979. Tentaranya disebut Red Khmer (Rouge Khmer) sehingga periode berkuasanya Pol Pot disebut sebagai Rezim Khmer Merah.

Meski hanya 4 tahun, gaya berkuasa Pol Pot sangat kejam. Pol Pot ingin mengubah Kamboja jadi negara agraris dengan memaksa seluruh rakyatnya jadi buruh tani. Sesuai paham komunis, hak perorangan dihapuskan. Berani coba-coba melanggar, maka silakan menunggu jemputan untuk dikirim ke kamp konsentrasi, disiksa sambil menanti giliran eksekusi mati.

Pada masa itu, diperkirakan sekitar 3 juta warga Kamboja meninggal, dibantai oleh bangsanya sendiri.


Setelah melepas topi dan alas kaki, kami masuk ke tempat tengkorak. 

Ada ratusan tengkorak korban pembantaian disimpan dalam etalase kaca. Di setiap tengkorak melekat bukti bagaimana cara dia dibunuh.

Tengkorak para korban usia di bawah 20 tahun

Salah satu contoh alat yang digunakan untuk membunuh
Sesak rasanya mengetahui orang-orang ini dibunuh dengan cara dicangkul atau ditusuk (kepalanya) dengan alat-alat pertanian. Kenapa tidak ditembak mati saja? Pembantai tidak mau membuang-buang peluru. Amunisi mahal, katanya.

Tidak ada belas kasihan dalam rezim Khmer Merah. Mereka ingin memberantas orang-orang yang tidak sepaham sampai ke akar-akarnya, yang berarti anak-anak usia berapapun juga harus ikut dihukum mati. Bagaimana rasanya kalau hadir di sana, melihat seorang anak dipukul-pukulkan ke pohon sampai habis nyawanya?

Kepala anak-anak dipukulkan ke pohon ini sampai mati
Kami melewati banyak kuburan. Tiap kuburan, yang masing-masing hanya seluas kamar kos-kosan, ada ratusan mayat di dalamnya. Dulu tubuh korban-korban itu dibuang begitu saja ke lubang galian. Ada yang lengkap, ada yang tanpa baju, banyak juga yang tanpa kepala.

Kuburan ini menampung sekitar 450 jenazah

Yang ini menampung 166 jenazah tanpa kepala

Menampung jenazah wanita dan anak-anak. Sebagian besar tanpa pakaian.
Belum habis rasa sedih di Choeng Euk Genocidal Center, Mas Saswi mengajak kami ke Tuol Sleng. Jaraknya sekitar 10 menitan. Tuol Sleng ini dulunya adalah sebuah sekolah yang diubah menjadi penjara di jaman Pol Pot. 

Ruang-ruang tahanan, yang sebelumnya adalah ruang-ruang kelas, dipenuhi puluhan (atau mungkin ratusan) potret para tahanan. Sebelum dijebloskan ke kamp konsentrasi ini, mereka memang diharuskan difoto. Semua foto sukses bikin sesak. Baik pria, wanita, anak-anak, ekspresinya hampir sama: tidak ada. Dan semakin sesak saat ketemu foto ibu menggendong bayinya. Bayangkan rasanya jadi dia.
Aturan bagi para tahanan. Semoga tulisannya cukup jelas terbaca.

Di banyak area dilarang memotret. Di Tuol Sleng, aku hanya mengambil gambar ini saja. Cobalah baca setiap poin pelan-pelan. Tambahkan sedikit imajinasi dan rasa kemanusiaan.

Pulang dari kedua tempat itu, selain baper luar biasa, dada juga dipenuhi rasa syukur. Aku yang sedang menunggu periode Internship saja mengeluh setiap hari karena bosan setengah mati. Gimana rasanya kalau jadi orang Kamboja di jaman Pol Pot? Sambil menunggu, kaki dipasung, mata ditutup, menanti giliran kepala dibacok.

Meski demikian, pemerintah Kamboja sekarang patut diapresiasi. Dengan tujuan menghormati para korban dan agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Kamboja mau membuka “aib” masa lalunya kepada generasi-generasinya dan juga dunia luar.

Anggaplah itu semacam “Halo generasiku, ini lo kerjaan pemimpin negara kita dulu. Padahal kita sebangsa, tapi kita disiksa karena tidak menuruti apa maunya.”

Tentu tidak mudah membuka tempat ini untuk umum. Pol Pot memang sudah mati, tapi beberapa kawan-kawannya bahkan belum lama ini diadili.

Coba deh di Indonesia. Dengar-dengar, banyak hal yang disembunyikan dari buku sejarah kita. Jadi kira-kira wajarlah kalau generasi kami ini buta sejarah.

Bersambung ke Siem Reap.

0 komentar :