Solo di Nusa Lembongan

Karena kaki udah gatal pengen jalan, pada suatu pagi yang cerah akhirnya saya berangkat ke Nusa Lembongan di sebelah tenggara Pulau Bali. Dan sesuai judul, saya berangkatnya solo. Iya, solo :)


(PS: diketik dalam keadaan gelap gulita karena pulau ini sedang mati listrik)

Mengapa solo?
Sebenarnya saya udah ngajakin anak-anak lain, tapi mereka pada gak bisa di tanggal-tanggal yang saya tawarkan. Nah, saya sendiri udah ngebet banget dan gak tau kapan lagi bisa punya free weekend. Adapun Trinity, pengarang Naked Traveler, adalah perempuan yang oke-oke aja keliling dunia sendirian. Toh saya travelingnya juga tetep di Bali, hanya naik boat sebentar dari pulau utama. Problem? :D

Perjalanan ke Nusa Lembongan bisa ditempuh dengan boat dari Pantai Sanur.
Mengingat Lady (motor saya) gak mungkin saya tinggal sendirian di Sanur selama dua hari semalam sementara saya berlabuh ke pulau seberang, jadilah saya minta tolong seorang teman untuk mengantar ke Sanur pagi-pagi. Kata si bapak-bapak yang ngurusin boat, saya udah harus standby di sana jam 7.30 pagi kalo mau ikut keberangkatan jam 8. Nah, si Ozi, teman saya itu, gak menampakkan diri juga sampe jam 7.30. Untung saya inisiatif datengin ke kosnya. Yak, sesuai dugaan: Syairozi Hidayat ketiduran :|

Sampai di Sanur, untunglah boat belum berangkat. Saya langsung membeli karcis slow boat  alias jukung. Mengapa yang slow, karena harganya hanya 25 ribu walaupun perjalanannya makan waktu 1,5 jam (yang fast boat 30 menit). Tak apa lah. Jukung yang saya tumpangi sebagian besar diisi para bule yang mungkin senasib sekantong sama saya :D

Slow boat aka jukung
Bagian dalam jukung
Di tengah perjalanan, ombak mulai menunjukkan taringnya dan saya pun mengalami jukung­-lag. Puji Tuhan saya gak sampai menghambur-hamburkan isi perut.

Dan kemudian… yeyyy! Sampailah saya di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan. Bau rumput laut langsung berinteraksi dengan mukosa membran. Semriwing! FYI, pulau ini memang beken dengan nori-nya. Dengan pasir putih dan air laut yang bening sampai bisa melihat karang dari atas boat, kesan pertama pulau ini oke :D

Sebelum berangkat saya memang sudah booked dua penginapan, tapi yang satunya enggak saya follow up karena nemu yang lebih murah. Ternyata yang enggak saya follow up itu udah nungguin di depan jukung sambil membawa kardus bertuliskan EMILI dan nama penginapan mereka di bawahnya. Pas saya turun dari jukung, mereka nanya saya, “sorry, are you Emily?” dan saya jawab “bukan, saya Feby”. HAHAHA. Maaf ya, pak… (gak sepenuhnya bohong karena nama panggilan saya yang lain memang Feby~)

Oleh penginapan saya yang beruntung (atau saya yang beruntung?), saya dijemput dengan motor dan diantar ke Swara Homestay. Kamar di homestay ini benar-benar murah: delapan puluh ribu! Dengan fasilitas tempat tidur porsi queen, wastafel, fan, towel, kamar mandi dalem, dan free wifi. Maknyus kan? X)

Sekedar info buat yang mau nyari hotel murah, bisa banget booking di Rajakamar! Apalagi sekarang ada promo hotel 88rb dan liburan gratis tis tis...
Selengkapnya check this link ;)

http://www.rajakamar.com/?utm_source=website&utm_medium=blogcompetition&utm_campaign=blogcompetition+rajakamar

http://content.rajakamar.com/segera-promo-88rbu-season-2-di-newsletter-rajakamar/

Truss abis itu saya juga nyewa motor Pak Suandana (yang empunya homestay), seharga 40 ribu sepuasnya sampe saya pulang besok. Dan karena masih berasa ampas jukung-lag, saya bobok sebentar dan sekitar pukul 12, saya pergi ke Mangrove Point buat snorkelingan :D

Swara Homestay


Solo snorkeling 100 ribu (tapi kalo berdua juga 100ribu/dua org) soalnya ke spot-nya butuh boat. Di Nusa Lembongan ini pertama kalinya saya nyobain apa yang disebut snorkeling dan menemukan dua kenyataan: ternyata kita memang gak perlu bisa berenang untuk bisa snorkeling dan ternyata dunia laut itu benar2 indah tak terkiraaa. Meskipun lagi2 saya kena snorkeling-lag atau apapun lah namanya, asli saya puas banget :D

Cus to Mangrove Point~

Dari perahu pun dunia lautnya bisa terlihat, bayangkan indahnya kalo udah nyebur!

Dalam perjalanan pulang, saya makan siang di Warung D and B, deket sama homestay. Mau makanan Indonesia atau kebarat-baratan, mereka siap sedia. Truss selain porsinya gede, harganya juga gak bikin jatuh kere (10-30 ribu).


Chicken Fried Rice, 15 ribu
Eeh, bangun-bangun udah jam 4 sore. Saya lanjutkan dengan wifi-an sejam sebelum berkunjung ke Desa Lembongan. Perjalanan ke sana agak mendaki yang membuat saya untuk pertama kalinya berpikir “saya nekat juga ya main sendiri ke pulau orang” dan sugesti itu semakin kuat ketika melewati pekuburan.

Tujuan saya kesana adalah Dreambeach dan Devil’s Tear yang katanya oke buat melihat sunset. Kedua tempat itu sebenarnya deket (atau mungkin sama?), tapi Devil’s Tear punya tebing tinggi yang menjadi korban tamparan ombak. Cantik deh :)

Namanya horor, Devil's Tear


Dari sana saya menyempatkan diri ke Mushroom Beach. Kayaknya pantai ini pelabuhannya Desa Lembongan ditinjau dari banyaknya boat yang arkir di sana. Karena udah semakin gelap (dan was was mikirin akan lewat pekuburan lagi), saya hanya foto-foto sebentar trus balik deh ke penginapan.

Mushroom Beach

Dan besoknya~
Karena berencana untuk pulang ke Denpasar dengan boat pagi, saya bangun pukul 6 dan mulai mengepak barang. Air di penginapan ini agak asin (mungkin langsung dari laut) dan showernya kurang nendang, jadilah saya memutuskan untuk sikat gigi dan cuci muka saja. Mandi boleh lah nanti di Denpasar :3

Hampir pukul 8, saya sarapan di Warung Made depan homestay. Menurut sumber dari blog-blog orang dan rekomendasi Pak Suandana sendiri, warung ini layaklah buat dikunjungi. Di sana saya memesan ham-egg jafle dan segelas teh anget dari seorang anak SMA yang akhirnya saya tuker-tukeran pin, hahaha. Nice breakfast :)

Ham Egg Jafle dan teh yang wangi, 15 ribu


Trus saya pikir-pikir, kayaknya perlu sesuatu untuk dikunyah deh buat di jalan entar. Saya pun pergi ke kios terdekat yang dijaga seorang oma-oma. Well, kondisi air mineral yang dipajang di sana udah pada bulukan (entah kapan tahun pembuatannya) dan si oma juga enggak jual minuman manis-manis. Yang tersedia dan masih fresh malah hanya beer botolan. Hmm…

Oke. Balik ke homestay dan minta pak Suandana buat nganterin ke boat centre.

Pelabuhan Desa Jungut Batu

Saya membeli karcis speedboat (yeah, speed!) berharga 50 ribu dengan waktu tempuh 30 menit. Setelah ber-goodbye-ria dengan Pak Suandana (gak pake cupika-cupiki), saya menenteng sandal jepit dan bergabung dengan penumpang lainnya masuk ke boat.




Fasilitas speedboat lebih berkualitas dari yang slow (iya lah) dan saya sedang menikmati perjalanan yang adem ketika speedboat (atau pak supir?) mulai menampakkan kebolehannya. Entah pengaruh ombak atau memang niat pak supir untuk berakrobat, 10 menit pertama lumayan memacu jantung bekerja ekstra. Kora-kora di lautan, kurang lebih seperti itu. Para penumpang lokal (termasuk saya) histeris-tapi-senang tiap kali speedboat terbang dan melemparkan diri dengan mantap. Yang aneh, bule-bule nyantai-nyantai aja tuh sambil memandangi kami dengan tatapan “what's wrong with you?” Hmm, jadi merasa katrok :|

Tiba di Sanur, Ozi dengan setia telah menjemput. Aihihi. And one journey ends :)

You May Also Like

43 komentar