Pages

Friday, June 21, 2013

Duet di Singapura #part1

Hai hai hai~~

Beberapa hari yang lalu, saya dan seorang teman main ke negara tetangga. Sebut dia (negara itu) Singapura. FYI, dengan bangga saya menyampaikan bahwa perjalanan selama 4 hari 3 malam di Singapura ini hanya menghabiskan biaya 3 juta rupiah! (saya pribadi).
Nah, itu udah termasuk apa aja? :))

Ternyata 3 juta itu adalah: tiket pesawat PP, pembuatan paspor (ketahuan yang baru pertama kali ke luar negeri :p), airport tax, hostel 2 malam (yg semalemnya lagi spesial, jadi dieksklusi hoho), transportasi selama di Singapura, makan enak teratur, belanja di Orchard, beli oleh-oleh, dan juga tiket masuk Universal Studio! Hebat gak saya? hohoho~

Mari kita mulai ceritanya~~~
Oh iya, kenalkan dulu, Priska Bachtiar, teman jalan saya kali ini yang saya ciduk di SGD :)

Pukul 4.30 am pada tanggal 14 Juni 2013, Priska dan saya udah standby di kost (kost saya, Priska nginep) dengan ransel di punggung masing-masing. Kemudian kami berdua menuju Bandara Ngurah Rai dengan motor. Niatnya, motor Priska ini akan kami titip di parkiran selama 4 hari. Lumayan ngirit biaya taksi~

Lalu kami masuk ke bagian Penerbangan Internasional. Prosedurnya kayak kalo masuk di tempat domestik, cuma ditambah pengecekan paspor dan airport tax 150 ribu. Selebihnya adem-adem ayem dan alhamdulilah AirAsia-nya juga boarding tepat waktu :))

Untuk tiket pesawat, kami udah booked sebulan sebelumnya, mumpung nemu promo 880 ribu pulang-pergi (masih standar sih sebenarnya). Denpasar-Singapura pun ditempuh selama 2,5 jam hingga akhirnya kami tiba di Changi International Airport. Asik! x)

Antrian imigrasi~
Hal pertama yang kami lakukan setelah melewati imigrasi adalah: Changi Tour!
Kenapa bandara juga harus dijelajahi? Tak lain tak bukan karena Changi ini pernah beberapa kali dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia. Penasaran dong ya sama rupa Changi jadinya~


Di Changi terdapat 3 buah terminal. Kalo kita pengen pindah dari terminal satu ke terminal lain, disediakan transportasi yang disebut SkyTrain. Antar terminal di bandara aja ada transportasinya, niat amat ya Changi ini...
SkyTrain~
Semakin dijelajahi saya semakin meragukan status Changi sebagai sebuah bandara. Penampakannya mal banget. Ada juga tempat bobok gratis, kursi pijat gratis, taman-taman unyu, dsb dsb. Gak semuanya pun bisa dijelajahi karena yang oke-oke terletak di bagian keberangkatan dan kami gak bisa tembus kesana (iyalah).

Di Terminal 2, saya dan Priska masuk ke Heavenly Wang. Di situ saya memesan Laksa khas Singapura dengan harga 4,2 SGD. Laksanya sih saya doyan banget, tapi saat itu jugalah rasa gatal mulai menyerang dan saya pun garuk-garuk gelisah (hai, alergi!).




Tour kami yang dimulai dari Terminal 1, tempat kami mendarat, berakhir di Terminal 3. Dan tujuan selanjutnya adalah... Marina Bay Sands! Kya! HAHAHA

Pasti pembaca terbengong-bengong (kepedean :p) mengapa saya dan Priska, yang jelas jelas adalah dua bocah dekil, bisa-bisanya menginap di hotel termasyur se-Singapura itu. Hmm, sebenarnya itu hanyalah faktor keberuntungan (terutama bagi saya) hihihi~

Oke, lanjut.
Untuk bisa keliling Singapura (dan juga untuk sampai ke Marina), naik MRT adalah salah satu pilihan. Maka kami pun membuat EZ Link yang diperuntukkan bagi mereka yang dalam sehari gak sering-sering pake MRT atau bus (contohnya penduduk sono). Dan ada juga yang namanya STP (Singapore Tourist Pass) yang unlimited dipake dalam sehari tapi harganya lebih mahal. Karena gak berencana banyak pindah-pindah, EZ Link lah yang kami pilih.

Dari Terminal 3 di Changi, kami naik MRT ke Bayfront dan muncul di The Shoppes at Marina Bay Sands :)
The Shoppes at MBS

Niatnya mau check in, kami malah nyasar di mana kaden (bahasa Bali ecek-eceknya keluar). Untunglah bertemu dengan om petugas yang baik hati dan dibimbing ke jalan yang benar, walaupun melewati bukan jalan umum. Eh, si om kayaknya agak sangsi juga deh pas kita bilang mau check in di MBS. HAHAHA.

Di hotel berlantai 57 ini, kami diberi kamar di lantai 17 yang dari balkon langsung menghadap Garden by the Bay. View-nya kalo malam wuih, kayak di planet lain~




foto ini diambil langsung dari balkon loh. keren kan? x)
Sambil nungguin waktu yang tepat buat menikmati salah satu kolam renang terbaik di dunia (asik!), kami menyempatkan waktu buat bobok siang dulu. Nyam nyam~

Sekitar pukul 5 sore, kami naik ke lantai 57 untuk mengunjungi SkyPark dan tentu saja: Infinity Pool yang tersohor itu. Aw!

Pemandangan dari SkyPark
best pool ever dah.

Pas lagi asik-asik berenang, ada salah seorang petugas yang mendatangi saya dan Priska dan menanyakan hal yang aneh banget, "how old are you?". Ih kepo banget ya.
Dia kelihatan heran pas kita bilang kita udah kepala dua. Setelah diselidiki, ternyata tadinya dia berencana memindahkan kita ke kolam khusus anak karena terlihat seperti dua bocah tanpa pengawasan orang tua. Parah! Segitu baby face-nya kah kita? *bangga*

Kata orang, pemandangan dari Infinity Pool ini paling maksimal di malam hari. Iya sih, memang, kayaknya. Tapi kami gak sesabar itu untuk menanti matahari terbenam, terutama karena kulit udah keriput di dalem air, angin juga makin kencang, dan perut pun meraung-raung *bocah banget*.
Dan lagi, Singapore ini entah mengapa lama banget baru gelap. Berasa gak sih? *ask the audience*

Usai mandi dan berdandan (aih!), selanjutnya adalah wisata kuliner! Kami memutuskan untuk naik MRT ke Raffles Place dan makan malam di Lau Pa Sat. 
FYI, Lau Pa Sat adalah salah satu food hawker beken yang menyajikan macam-macam makanan khas Singapura dengan harga terjangkau. Tempatnya rame banget.



Chicken Rice di sini TOP!
Iya, TOP!

Pas nyobain kuahnya Chicken Rice, saya merasa ini kayak ada aroma haramnya deh. Saya sih gak masalah, tapi si Priska kan gak boleh. Trus saya kasih tau si Priska, "Pris, kayaknya ini ada porknya loh.."
Priska lalu nyicipin kuahnya itu dan berkomentar, "ah masa sih? kayaknya bukan deh"
Au ah gelap~ hahahah :p

Setelah perut terisi, kami berdua pun tak kuasa menanggung rasa kantuk dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Pas nyampe The Shoppes, timbul niat untuk melihat bay di malam hari. Aah, ternyata Marina Bay di malam hari sungguh kinclong. Eh apa ya istilahnya, pokoknya mengagumkan lah. *anak udik*

Marina, kamu keren banget jadi background foto~



Aah hari pertama yang mengasyikkan. Karena udah larut malam, anak manis harus bobok.
See you di Sibuknya Singapura Hari Kedua! Heheheh :))

Good night :3

Wednesday, June 5, 2013

Jalan2 Murah ala Mahasiswa Ngekos

Hai, jumpa lagi dengan saya dalam Jalan Jalan Makan! Hihihi *lebih bersemangat dari biasanya*
Sekarang saya pengen sharing tips jalan-jalan buat siapa aja yang membaca, terutama mahasiswa, terutama anak kos! Mengapa mahasiswa dan mengapa anak kos? Karena kita, para mahasiswa nge-kost, adalah pribadi-pribadi yang mandiri, yang sibuk di kampus, dan yang menjadi bendahara dalam kehidupan kita yang jauh dari orang tua.

Adapun saya ini hanyalah anak baru dalam dunia jalan-jalan, jadi apa yang akan saya bagi sebentar lagi adalah sekedar sharing dari saya yang anak bawang :))
Dan di sini, saya mengelompokkan tips-tips ke dalam 3 kategori, yaitu Duit, Waktu, dan Lain-lain.

DUIT
Ini yang penting dan terutama! Meskipun kekayaan tidak menjamin kebahagiaan, yang namanya traveling tetap butuh dana. Dari mana anak kos bisa mendapatkan duit? Silakan disimak~

1. Berhemat (klise, ya)
Kaum kita tentunya dapat kiriman berkah dari orang tua setiap bulan. Nah, kalau dicermati ternyata kita bisa mengikis pengeluaran di sana-sini. Contoh kasus, dulu saya cukup doyan kuliner di resto-resto gitu deh (sok), trus sekarang intensitasnya udah saya kurangi dan beralih ke makanan yang lebih hemat namun tidak mengesampingkan gizi dan rasa. Dan ternyata ya, makanan-makanan paling tasty dan enak justru saya temukan di pedagang-pedagang kaki lima :)). Contoh kasus lain, waktu SMA saya gak suka melewatkan film-film baru di bioskop. Tapi sekarang setelah tahu Telkomsel bagi-bagi tiket nonton gratis tiap Jumat, ya saya manfaatkan :D

2. Bekerja.
*bagian ini diperbaharui 4 tahun kemudian*
Waktu masih mahasiswa, saya bisa dapat duit tambahan yang lumayan dari ikut-ikutan MLM hahaha. Walaupun sekarang udah gak lagi, setidaknya pandangan saya ke MLM gak buruk (karena pernah ikutan). Dulu dengan ngerjain MLM dari hp doang, bisa lah saya pake jalan2 menjelajah Bali dan beberapa bagian Indonesia hehehe

WAKTU
Banyak senior mengatakan, jalan-jalanlah selagi masih mahasiswa. Kalau udah koas, udah jadi dokter, atau pokoknya udah kerja, waktu itu mahal sekali katanya. Namun terkadang kita, mahasiswa, sering sok sibuk. Kuliah lah, organisasi lah, bla bla bla lah. Padahal sebenarnya kuliah-organisasi-bekerja-dan-jalan2 itu bisa dibuat seimbang dengan mengenali kapasitas kita.
Trus-trus, biasanya keinginan melakukan perjalanan itu kan gede banget, saking gedenya sampai jadi motivasi saya untuk belajar. Mengapa? Karena kalo saya remedial (mengulang ujian), waktu jalan-jalan saya pastinya akan berkurang...

LAIN-LAIN
Seringkali duit udah ada, waktu tersedia, tapi ada aja lain-lain yang bikin enggak jadi berangkat. Misalnya, udah semangat mau berangkat, gak taunya gak jadi pergi karena yang ikut gak rame. Atau udah menggebu-gebu juga, pas izin sama orang tua malah gak dikasih. Trus banyak juga takut-takut lainnya: takut nyasar, takut gak cocok sama daerah yang mau dikunjungi, takut bete, takut naik pesawat sendirian (ada temen saya), takut ombak (kalo perjalanan laut memang perlu cek BMKG), takut dirampok, takut dilecehkan (terutama cewek2), dan aneka ketakutan lainnya. 

Hmm mari coba kita bahas. Kalo masalah nyasar itu selama ada pulsa, sinyal, duit, dan orang-orang di pinggir jalan buat ditanyain (apalagi kalo jalan-jalannya masih di Indonesia), kayaknya bisalah ya diatasi. Trus takut bete di sananya itu ya tergantung sudut pandang. Biasanya sih berada di tempat yang baru, budaya baru, dan orang-orang baru, gak bikin bete kok (subjektif). Trus buat cewek, kita memang harus lebih berhati-hati. Hindari bermain mata dengan pria tak dikenal, berpakaian mengundang, tempat-tempat gelap nan sunyi, dan kenali medan yang akan dikunjungi.
Well, sungguh saya gak pengen sok berani (karena saya takut hantu), tapi satu nasehat bapak yang selalu tersimpan dalam lobus temporal otak saya "kalau kamu takut, kamu gak akan sampai kemana-mana". :))

Hmm udah sih gitu aja. Mohon maaf bila sharing-an di atas berkesan menggurui (percayalah, tak ada maksud). Adapun jika di antara pembaca ada yang rela berbagi kiat-kiatnya tentu akan asik sekali :D

Pura Ulun Danu, Danau Beratan - Bali
Menuju Pelabuhan Bangsal - Lombok
Dengan bule narsis - Gili Trawangan
Lesehan di kereta - Jawa Tengah
Di suatu candi belakang Prambanan - Jogja

Sunday, June 2, 2013

Solo di Nusa Lembongan

Karena kaki udah gatal pengen jalan, pada suatu pagi yang cerah akhirnya saya berangkat ke Nusa Lembongan di sebelah tenggara Pulau Bali. Dan sesuai judul, saya berangkatnya solo. Iya, solo :)

(PS: diketik dalam keadaan gelap gulita karena pulau ini sedang mati listrik)

Mengapa solo?
Sebenarnya saya udah ngajakin anak-anak lain, tapi mereka pada gak bisa di tanggal-tanggal yang saya tawarkan. Nah, saya sendiri udah ngebet banget dan gak tau kapan lagi bisa punya free weekend. Adapun Trinity, pengarang Naked Traveler, adalah perempuan yang oke-oke aja keliling dunia sendirian. Toh saya travelingnya juga tetep di Bali, hanya naik boat sebentar dari pulau utama. Problem? :D

Perjalanan ke Nusa Lembongan bisa ditempuh dengan boat dari Pantai Sanur.
Mengingat Lady (motor saya) gak mungkin saya tinggal sendirian di Sanur selama dua hari semalam sementara saya berlabuh ke pulau seberang, jadilah saya minta tolong seorang teman untuk mengantar ke Sanur pagi-pagi. Kata si bapak-bapak yang ngurusin boat, saya udah harus standby di sana jam 7.30 pagi kalo mau ikut keberangkatan jam 8. Nah, si Ozi, teman saya itu, gak menampakkan diri juga sampe jam 7.30. Untung saya inisiatif datengin ke kosnya. Yak, sesuai dugaan: Syairozi Hidayat ketiduran :|

Sampai di Sanur, untunglah boat belum berangkat. Saya langsung membeli karcis slow boat  alias jukung. Mengapa yang slow, karena harganya hanya 25 ribu walaupun perjalanannya makan waktu 1,5 jam (yang fast boat 30 menit). Tak apa lah. Jukung yang saya tumpangi sebagian besar diisi para bule yang mungkin senasib sekantong sama saya :D

Slow boat aka jukung
Bagian dalam jukung
Di tengah perjalanan, ombak mulai menunjukkan taringnya dan saya pun mengalami jukung­-lag. Puji Tuhan saya gak sampai menghambur-hamburkan isi perut.

Dan kemudian… yeyyy! Sampailah saya di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan. Bau rumput laut langsung berinteraksi dengan mukosa membran. Semriwing! FYI, pulau ini memang beken dengan nori-nya. Dengan pasir putih dan air laut yang bening sampai bisa melihat karang dari atas boat, kesan pertama pulau ini oke :D

Sebelum berangkat saya memang sudah booked dua penginapan, tapi yang satunya enggak saya follow up karena nemu yang lebih murah. Ternyata yang enggak saya follow up itu udah nungguin di depan jukung sambil membawa kardus bertuliskan EMILI dan nama penginapan mereka di bawahnya. Pas saya turun dari jukung, mereka nanya saya, “sorry, are you Emily?” dan saya jawab “bukan, saya Feby”. HAHAHA. Maaf ya, pak… (gak sepenuhnya bohong karena nama panggilan saya yang lain memang Feby~)

Oleh penginapan saya yang beruntung (atau saya yang beruntung?), saya dijemput dengan motor dan diantar ke Swara Homestay. Kamar di homestay ini benar-benar murah: delapan puluh ribu! Dengan fasilitas tempat tidur porsi queen, wastafel, fan, towel, kamar mandi dalem, dan free wifi. Maknyus kan? X)

Sekedar info buat yang mau nyari hotel murah, bisa banget booking di Rajakamar! Apalagi sekarang ada promo hotel 88rb dan liburan gratis tis tis...
Selengkapnya check this link ;)

http://www.rajakamar.com/?utm_source=website&utm_medium=blogcompetition&utm_campaign=blogcompetition+rajakamar

http://content.rajakamar.com/segera-promo-88rbu-season-2-di-newsletter-rajakamar/

Truss abis itu saya juga nyewa motor Pak Suandana (yang empunya homestay), seharga 40 ribu sepuasnya sampe saya pulang besok. Dan karena masih berasa ampas jukung-lag, saya bobok sebentar dan sekitar pukul 12, saya pergi ke Mangrove Point buat snorkelingan :D

Swara Homestay


Solo snorkeling 100 ribu (tapi kalo berdua juga 100ribu/dua org) soalnya ke spot-nya butuh boat. Di Nusa Lembongan ini pertama kalinya saya nyobain apa yang disebut snorkeling dan menemukan dua kenyataan: ternyata kita memang gak perlu bisa berenang untuk bisa snorkeling dan ternyata dunia laut itu benar2 indah tak terkiraaa. Meskipun lagi2 saya kena snorkeling-lag atau apapun lah namanya, asli saya puas banget :D

Cus to Mangrove Point~

Dari perahu pun dunia lautnya bisa terlihat, bayangkan indahnya kalo udah nyebur!

Dalam perjalanan pulang, saya makan siang di Warung D and B, deket sama homestay. Mau makanan Indonesia atau kebarat-baratan, mereka siap sedia. Truss selain porsinya gede, harganya juga gak bikin jatuh kere (10-30 ribu).


Chicken Fried Rice, 15 ribu
Eeh, bangun-bangun udah jam 4 sore. Saya lanjutkan dengan wifi-an sejam sebelum berkunjung ke Desa Lembongan. Perjalanan ke sana agak mendaki yang membuat saya untuk pertama kalinya berpikir “saya nekat juga ya main sendiri ke pulau orang” dan sugesti itu semakin kuat ketika melewati pekuburan.

Tujuan saya kesana adalah Dreambeach dan Devil’s Tear yang katanya oke buat melihat sunset. Kedua tempat itu sebenarnya deket (atau mungkin sama?), tapi Devil’s Tear punya tebing tinggi yang menjadi korban tamparan ombak. Cantik deh :)

Namanya horor, Devil's Tear


Dari sana saya menyempatkan diri ke Mushroom Beach. Kayaknya pantai ini pelabuhannya Desa Lembongan ditinjau dari banyaknya boat yang arkir di sana. Karena udah semakin gelap (dan was was mikirin akan lewat pekuburan lagi), saya hanya foto-foto sebentar trus balik deh ke penginapan.

Mushroom Beach

Dan besoknya~
Karena berencana untuk pulang ke Denpasar dengan boat pagi, saya bangun pukul 6 dan mulai mengepak barang. Air di penginapan ini agak asin (mungkin langsung dari laut) dan showernya kurang nendang, jadilah saya memutuskan untuk sikat gigi dan cuci muka saja. Mandi boleh lah nanti di Denpasar :3

Hampir pukul 8, saya sarapan di Warung Made depan homestay. Menurut sumber dari blog-blog orang dan rekomendasi Pak Suandana sendiri, warung ini layaklah buat dikunjungi. Di sana saya memesan ham-egg jafle dan segelas teh anget dari seorang anak SMA yang akhirnya saya tuker-tukeran pin, hahaha. Nice breakfast :)

Ham Egg Jafle dan teh yang wangi, 15 ribu


Trus saya pikir-pikir, kayaknya perlu sesuatu untuk dikunyah deh buat di jalan entar. Saya pun pergi ke kios terdekat yang dijaga seorang oma-oma. Well, kondisi air mineral yang dipajang di sana udah pada bulukan (entah kapan tahun pembuatannya) dan si oma juga enggak jual minuman manis-manis. Yang tersedia dan masih fresh malah hanya beer botolan. Hmm…

Oke. Balik ke homestay dan minta pak Suandana buat nganterin ke boat centre.

Pelabuhan Desa Jungut Batu

Saya membeli karcis speedboat (yeah, speed!) berharga 50 ribu dengan waktu tempuh 30 menit. Setelah ber-goodbye-ria dengan Pak Suandana (gak pake cupika-cupiki), saya menenteng sandal jepit dan bergabung dengan penumpang lainnya masuk ke boat.




Fasilitas speedboat lebih berkualitas dari yang slow (iya lah) dan saya sedang menikmati perjalanan yang adem ketika speedboat (atau pak supir?) mulai menampakkan kebolehannya. Entah pengaruh ombak atau memang niat pak supir untuk berakrobat, 10 menit pertama lumayan memacu jantung bekerja ekstra. Kora-kora di lautan, kurang lebih seperti itu. Para penumpang lokal (termasuk saya) histeris-tapi-senang tiap kali speedboat terbang dan melemparkan diri dengan mantap. Yang aneh, bule-bule nyantai-nyantai aja tuh sambil memandangi kami dengan tatapan “what's wrong with you?” Hmm, jadi merasa katrok :|

Tiba di Sanur, Ozi dengan setia telah menjemput. Aihihi. And one journey ends :)