Pages

Sunday, May 27, 2012

backpakeran #4

4th destination: Yogyakarta *again
Nyaris tak dapat penginapan. Tiba di Jogja 16.30, kami baru masuk kostan pukul 21.00. Itupun setelah menambahkan dua personel baru pencari penginapan (Mas Jati dan Mbak Astu). Selama itu kami menyusuri sepanjang malioboro, jalan2 sekitar terminal yg padahal penuh hotel dan losmen tapi dengan plang “FULL” di semua pintunya. Ada satu kali kami mendapatkan losmen yang masih punya satu kamar seharga 90rb. Tertarik, kami melakukan inspeksi kamar dan menemukan... ehem, tempat ini tempat apa ya? Kondisinya membuatku ragu menginap semalam disini dibayang dengan rupiah atau…

menggelandang di malioboro sambil makan ronde

Well, dari losmen sampe hotel berbintang semua full di seluruh Jogja (kami menelepon satu persatu yg ada di internet).  Belum lagi budget untuk penginapan kami terbatas. High season, benar2 di luar prediksi. Karena tidak ingin menghabiskan malam di masjid, kami minta pertolongan sama Mas Jati dan pacarnya sementara kami bertiga (Aku, Lia, Mas Aria) menggelandang di Malioboro. Mereka berdua sangat sabar dan dengan motor akhirnya berhasil menemukan kostan yang menyewakan harian 175rb semalam di daerah sekitar UGM. Dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam, tempat ini lebih baik dari hotel pertama kami waktu sampai di Jogja dan di sinilah kami menghabiskan dua malam terakhir.

sarapan, delapan ribu

Hari terakhir diisi dengan melihat-lihat kampus UGM, Keraton, dan Candi Prambanan.
Di candi ini terjadi hal yang menyenangkan lagi: Lia hilang. Kronologisnya adalah aku, Lia, dan Mas Jati pergi ke Prambanan. Nah, mumpung udah disini, aku sama Mas Jati sekalian ingin melihat candi-candi lainnya juga yang ada di belakang Prambanan, tapi Lia tidak. Baginya candi hanyalah batu, no more.
Jadilah dia menunggu selama kami berjalan sampai ke Candi Sewu yang jaraknya lumayan juga kalo jalan kaki. Waktu kami balik, Lia was not there. Dan hp-nya tidak aktif. Ada dua jam lebih kami mencari dia, bahkan sampai mengumumkan ke bagian informasi. Beken banget dia namanya digaungkan di seluruh kawasan Prambanan. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk balik ke kostan dengan harapan mungkin dia pulang duluan.

Dan benar, dia pulang duluan. Habis dia aku marah2in, hahaha.
Pas aku selesai mandi, dia gak ada di kamar dan ada sebuah note di atas tempat tidur *sinetron banget* yang isinya: “Aku keluar. Kamu kalo makan sama Mas Aria atau Mas Jati aja. Maaf, aku yang salah”
Disitu aku sempat berpikir, apa aku sedang main film? Belum lagi tadi perjalananku ke kost dengan Mas Jati naik dengan melompat ke dalam bus yang sedang berjalan dan turun juga demikian *bus hanya menurunkan kecepatan dan kami lompat keluar. Mungkin aku sedang main film action.

Lia kutelepon, ternyata dia di Alun-Alun. Suaranya sesenggukan gitu. Aku menyusul dia dengan motor Mas Aria yang dipinjami ke kami. Sebenarnya perbuatanku itu agak nekat mengingat aku belum lama bisa bawa motor, aku tidak tau jalan, dan aku tidak punya SIM. Tapi namanya juga film...
Well, ternyata Alun-Alun lumayan jauh dan Malioboro macet berat. Tapi toh aku sampe juga (tiap sebelum belokan nanya orang).

Di sana, tiba2 saja kami sudah berbaikan. Di Alun2 itu ada dua pohon kembar yang punya mitos, kalo berhasil melewati dua pohon itu dengan mata tertutup setelah badan diputarin 10x, permohonan kita akan terkabul. Memang banyak loh yang jalannya melenceng, tapi mungkin wajar juga soalnya kan pusing diputerin sampe 10x. Di kali kedua, aku berhasil. Lia sampe di kali ketiga, gak pernah tembus :p

Dari sana, kami berburu oleh2. Katanya Bakpia 25 adalah oleh2 favorit di Jogja. Karena malam itu udah pukul 10 lebih dan toko oleh2 udah banyak yang tutup, kami sampe nyari ke pabriknya dan nemu bakpia-bakpia yang masih hangat :9
Terakhir, kami makan malam di Teras Javanese, di Jalan Abu Bakar Ali. Tempatnya lebih ke Jawa modern dan porsi makanannya gedeee banget. Harganya tak disangka, murah.

Demikianlah perjalanan traveling kali ini. Besoknya kami ke berangkat ke bandara dengan TransJogja dan boarding pukul 8 pagi leaving for Denpasar. See you, Jogja…

 



 

Thursday, May 24, 2012

backpakeran #3


3rd destination: Kutoarjo
Apa ya yang bisa diceritakan? Kutoarjo itu salah satu kampung Jawa. Mengapa kami kemari, mungkin bisa dikatakan sebagai kedok. Kalau bukan dengan alasan ingin menjenguk mbah, mungkin Lia tidak akan diizinkan traveling. Lia gak traveling, otomatis aku pun tidak. Tapi itu bukan hambatan, karena seluruh keluarga Lia sangat baik dan welcome.
Esok paginya kami muter2 naik sepeda gede berkeranjang –phoenix- yang udah lama banget tidak kutemui, lalu siangnya mencoba kuliner ekstrim: tawon, dan sempat juga ikut mereka ziarah kubur di makam keluarga samping rumah.
Siang itu juga aku, Lia, dan Mas Aria kembali ke Yogyakarta. Perjalanan pulang ini lebih baik: naik becak-motor (duduk), bus (masih duduk), dan kereta api (juga duduk).


Nasi Tawon :9

Wednesday, May 23, 2012

backpakeran #2


2nd destination: Yogyakarta
Sore nyaris malam berangkat dari Surabaya, kami sampai di Jogja pukul 2 dini hari. Yang seyogyanya kami dijemput di terminal oleh pihak hotel yang udah di-book, nomor mereka tidak aktif saat dihubungi. Dengan taksi non argo kami mencari-cari hotel di sekitar Terminal Giwangan yang alhamdulillah, nemu. Kamarnya lumayan bersih, fan, private bathroom, include breakfast dg harga 150rb.
Besoknya karena berencana melanjutkan perjalanan ke Kutoarjo, kami check out pukul 9 pagi. Dalam perjalanan dg becak ke stasiun, kami banyak singgah untuk melihat2 batik dan bakpia ala jogja *atas rekomendasi si bapak becak, dan juga sempat nyobain nasi gudeg di Malioboro seharga 20rb. Well, untuk ukuran nasi gudeg dan jogja,katanya itu mahal.
Di stasiun, kami kedatangan satu personel baru, jreng jreng jreng… Mas Aria!
Mas Aria adalah sepupu Lia yang ternyata mirip Doni Sibarani. Nah, kami pun membeli tiket. Bahagia rasanya mendapatkan tiket KA Jogja-Kutoarjo seharga 10rb sebelum kami tahu, ternyata KA itu tanpa AC dan di tiket kami tercantum dengan huruf kapital yang di-bold “BERDIRI, TANPA TEMPAT DUDUK”. Wow…


Seolah2 perjalanan ngeleseh di KA tanpa AC belum cukup, untuk sampai ke rumah Mbah-nya Lia, kami masih harus naik bus (yang lagi-lagi berdiri), naik angkot (yang saking penuhnya, Mas Aria harus bergantung di pintu ala kernet dan beneran dikasih duit sama penumpang lain), kemudian jalan kaki, dan akhirnya sampailah kami di sebuah rumah dengan cita rasa Jawa asli :9


Monday, May 21, 2012

backpackeran #1


Tanggal 15 Mei kemarin, pukul 21.00 adalah awal petualangan ala backpackerku yang pertama dg temanku, Nurmalia.
1st destination: Surabaya
Dengan citilink, kami sampai di Surabaya pukul 9 malam. Dalam perjalanan ke kosan Karin (temen Lia yang rencananya mau ditumpangi), kami dibego2in sama bus damri. Yang sebaiknya ditempuh hny dg taksi sja, alhasil ditempuh dg damri + taksi yg bikin tekor 30rb.
Kosan Karin terletak dekat dengan RS Dr Soetomo yang gede nian itu, jadi paginya kami melihat2 rumah sakit (dari luar) dan Universitas Airlangga. Di kantin kampus kedokteran, secara tdk sengaja aku bertemu teman lama, ah kebetulan sekali ^^


Teman lamaku dan teman2ny merekomendasikan kami berjalan2 ke Tunjungan Plaza, mal terbesar di Surabaya. Well, kami kelamaan di TP dan kehabisan tiket KA menuju Jogja untuk hari itu. Kami menyusun rencana B. Dengan angkot+damri, sampailah kami di Terminal Bungrasih.
Satu kejadian unpredictable lagi, ternyata calon penumpang membludak. Setiap ada bus yang masuk terminal, para calon penumpang berebutan bersaing mendapatkan kursi, atau paling nggak berdiri dalam bus. Walaupun tidak kebagian bus favorit, kami berhasil mendapatkan kursi di salah satu bus yang tidak terlalu jelek (dengan AC, tanpa toilet).