Pages

Wednesday, August 30, 2017

Paket Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 5)

Bangkok, kota dengan turis Indonesia terbanyak dalam perjalanan kali ini. Hanya di Bangkok, identitas kami nyaris tertebak.
“Jakarta?” tanya kondektur bus Siem Reap-Bangkok.
Kujawab, “Bali”
Kondektur tampak excited.
Pengen aku jawab “Celebes/Sulawesi”, tapi mana lah dia tahu hahaha *pengkhianat kampung*

Sebelumnya, di Vietnam dan Kamboja, gak pernah sekali pun kami ditebak sebagai orang Indonesia. Paling sering dikira Filipina atau Malaysia. Ah ya, adikku pernah satu kali dikira orang Vietnam di Ho Chi Minh City dan itu bikin dia bangga banget karena cewek-cewek Vietnam semua kan pada langsing, kinclong, kece! Hehehe

Aku melempar jawaban “Indonesia” atau “Bali” tiap ditanya asal.
Kalau dijawab “Indonesia”, muka orang jadi tampak bingung. Dijawab “Bali”, muka jadi sumringah.
*padahal aku bukan orang Bali*
*maaf ngaku-ngaku*
*tapi bener kan kami memang dari Bali? (penerbangan dari Denpasar hehe)

Seorang perempuan Filipina di Bangkok, yang akhirnya kami ngobrol-ngobrol karena sama-sama mengeluhkan grabcar yang gak nyampe-nyampe, langsung mengeluarkan rajutan tempat koin bertuliskan “Bali” dari dalam tasnya dan dengan semangat bilang “Ini oleh-oleh dari muridku waktu dia ke Bali!”
Hihihi :)

Well, perjalanan ke Bangkok dari Siem Reap kami tempuh dengan bus yang lagi-lagi membutuhkan waktu 8 jam. Sampai di tempat perhentian bus, kami jalan kaki ke penginapan. Dekat. 10-15 menitan.
Lalu tiba lah kami di depan Counting Sheep HoStel! Hostel bertema domba-domba yang tampak ucul.

Selain karena murah (70 ribu IDR sudah termasuk sarapan), alasan kami memilih hostel untuk tinggal selama di Bangkok adalah biar adikku pernah nyoba hehehe.
Well, tinggal di hostel tidak semenyedihkan pikiran bapak-mamakku. Walau kami harus sekamar dengan orang-orang asing, ya gak papa, kan gak seranjang. Bersih dan full AC, bed juga sudah dilengkapi gorden, lampu baca, colokan, dan loker masing-masing.

Kamar kami di Counting Sheep Hostel
Karena itinerary yang sempat mundur sehari (sudah diceritakan di part 1 atau 2), sisa sehari saja jalan-jalan efektif kami di Bangkok. Jatuh di hari Minggu, agenda pun menjadi: gereja, Chatuchak, dan aneka pagoda-pagoda (Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, dsb).

Menghadiri misa wajib ada dalam list, selain karena masuk dalam 5 Perintah Gereja, juga karena teman jalanku adalah seorang calon biarawati hehe. Kami pun mengikuti English Mass di Holy Redeemer Church, Bangkok.

Lalu tujuan berikutnya: Chatuchak Weekend Market. Tempat ini menyita banyak sekali waktu kami.
Bukan salah siapa, tapi belanja di sini memang bikin adiksi. Murahnya bikin kaki gak kenal pegal. Maka aku telah mengerti mengapa orang Indonesia bisa ke Bangkok berkali-kali dalam hidupnya cuma untuk belanja tok.
 
Sambil jalan di Chatuchak, kami mulai merelakan satu persatu kunjungan yang lain.
Aku, “Utet, ndak usah ke Grand Palace ya. Kemarin kan udah mabok kita liat candi.”
Adik, “Oke.”

Chatuchak Weekend Market

Adik. Yang pegang es.
Makin lama, makin sore, pagoda-pagoda makin banyak tercoret dari list, dan tentengan juga makin banyak. Tapi rasa-rasanya harus ada setidaknya satu pagoda dikunjungi.

Baiklah. Mungkin Wat Arun masih keburu karena tutupnya paling sore dan konon katanya terbaik dinikmati saat sunset- makanya disebut juga Temple of Dawn. Kami lalu menumpang semacam bentor dari Chatuchak ke Wat Arun. Bentor dibawa oleh seorang supir yang berpenampilan seperti preman, melesat dengan kecepatan tinggi. Aku jadi suudzon, mungkin dia marah karena kami terlalu menawar harga hahaha

Diturunkan di dermaga, cantiknya Wat Arun sudah terlihat dari seberang. Naik ferry semenit, sampailah kaki di Wat Arun.


Wat Arun
Demi pemandangan terbaik, kami menerima saran gugel untuk menikmati Wat Arun dari seberang saat gelapnya malam sudah sempurna. Hm bagaimana ya menjelaskannya. Langit hitam, danau tenang, dan ada Wat Arun yang menyala karena lampu-lampu kuningnya.

Kami mencari tempat yang menyajikan pemandangan itu hingga pilihan jatuh ke suatu kafe di lantai empat. Namun apa daya bukan rejeki, udah mahal-mahal bayar minum, lampu Wat Arun tak kunjung menyala. Kata mas bartender sedang renovasi. Aih rugi bandar.

Kami memesan grabcar untuk mengantar ke Khaosan Road, makan di sana dan pulang ke hostel. Kamar kami yang dimuati 8 orang sudah gelap gulita. Mau tidak mau harus packing diam-diam agar tidak mengganggu tidur si bule-bule. Beberapa jam lagi, pagi-pagi buta sekali, kami akan bertolak ke Tanah Air.

Dan begitulah. Berakhir sudah 8 hari perjalanan Malaysia-Vietnam-Kamboja-Thailand bersama adik gendut yang untungnya lucu. Banyak senang, banyak sengsara (yang tak diceritakan), ada pengalaman.

Dengan sedikit sabar, aku menunggu perjalanan berikutnya :)

Tuesday, August 8, 2017

Paket Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 4)

Menulis itu menyenangkan. Yang menyebalkan adalah menulis sampai selesai, kemudian tidak sengaja terhapus, sampai ke dasar-dasarnya pulak. Aku butuh waktu 2 minggu untuk mengumpulkan niat menulis ulang. Motivasinya adalah untuk kubaca kapan-kapan, menjadi bahan nostalgiaku besok-besok.

Hm baiklah. Ini tentang Siem Reap, sebuah kota di Kamboja, tujuan kami setelah Phnom Penh.
Siem Reap menyimpan destinasi wisata yang paling dicari di Kamboja. Itu adalah Angkor Wat! Situs agama terbesar di dunia!

Angkor Wat adalah salah satu candi di antara begitu banyaaak candi di kompleks Angkor itu.
Katanya, Angkor Wat dibangun pada abad ke-12 selama kurang lebih 30 tahun. Awalnya dimaksudkan sebagai candi Hindu, belakangan difungsikan sebagai kuil Buddha. Mengapa seperti itu? Tanyakan pada Google.

Hmm cerita kita mundurkan dulu ke Phnom Penh, ibukota Kamboja, karena kita berangkat dari sana.
Dengan bus, perjalanan Phnom Penh-Siem Reap ditempuh sekitar 8 jam.
Kami menumpang Mekong Bus yang menurut review adalah bus favorit para bule backpacker. 

Sekedar nambahin review yang sudah ada, kami (orang Asia kerdil) merasa space kursinya sempit dan bikin susah gerak (dibanding bus lokal HCMC-Phnom Penh kemarin).
Apa karena murah ya bule-bule pada suka? Ah, kalau mau yang lebih murah mah banyak.
Mungkin yang jadi nilai plus adalah Mekong Bus punya kondektur yang informatif. Tiap masuk ke satu kota, dia ngabarin. Pas bus berhenti untuk ngasih kesempatan pipis, dia ngabarin. Hal-hal sesederhana itu menolong banget karena kita main ke negara yang tulisannya gak pake alfabet. Tulisan sekitar aja gak bisa dibaca, apalagi dengerin bahasa lokalnya. Untungnya kondektur Mekong ini menyampaikan informasi bilingual: bahasa Inggris dan Khmer (Kamboja).

Tiba di Siem Reap sudah sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Kami dijemput pihak penginapan di tempat perhentian bus dan diantar ke Blossoming Romduol Lodge. Setelah bisa konek wifi (ah nafas kehidupan), kami baru mencari cara gimana bisa sampai dengan bahagia ke Angkor Wat. Tiga hal yang penting adalah: transportasi, durasi, dan tiket masuk.

Masalah transportasi sudah dijawab oleh pihak hotel. Mereka menawarkan tour by tuktuk dengan 15 USD. Itu tawaran yang cukup baik.

Durasi jalan-jalan pun tinggal dipilih. Ada Small Tour, sekitar 6 jam, sudah bisa mengunjungi candi-candi terfavorit di kompleks Angkor. Atau mau Big Tour, durasinya suka-suka: mau seharian, mau semingguan, pokoknya sampe mabok!

Nah. Bagian tiket masuk yang agak mengejutkan. 37 USD per orang untuk small tour! Berapa kali lipat tuh dibanding masuk ke Prambanan atau Borobudur? Hiks. Btw warga negara Kamboja sendiri bisa masuk gratis. Hiks hiks.

Keesokan harinya pukul 10 pagi, tuktuk mengantar kami ke kompleks angkor yang tersohor itu.
Nah sesungguhnya momen terbaik menikmati Angkor Wat adalah saat sunrise. Konon katanya amat spektakuler dan tak terlupakan. Tapi siap-siap aja bangun jam 4 pagi. Aduh ngantuk hahaha.
*sebenarnya ada alasan lain yang agak memalukan, semoga tetap tersimpan di kepalaku saja sebagai pembelajaran huehehe*

Ah ya, ada bagian menarik yang membuat kami gak merasa sendiri meratapi mahalnya tiket masuk ke kompleks Angkor.
Jadi setelah beli tiket, aku masuk ke toilet. Waktu lagi enak-enaknya pipis, aku membaca tulisan besar di sisi dalam pintu toilet yang ditulis dengan bolpoin hitam:
“THIS COUNTRY IS A TOURIST TRAP! F*** YOU, CAMBODIA!”

Dengan sotoy aku menyimpulkan yang diprotes orang itu pastilah harga tiket masuk ke situs Angkor dan mahalnya biaya hidup di Kamboja (dibanding negara Asia Tenggara lain).
Horeee ada yang senasib.

Pemandangan dari Candi Anu - maaf lupa nama

Ta Prohm, salah satu candi di kompleks Angkor. Makin terkenal setelah jadi lokasi syuting Tomb Raider.

Ta Prohm

Ta Prohm

Si Langsing di depan Candi Anu 2

Candi Anu 3

Jalan ke Angkor Wat

Si Keribo

Angkor Wat! *sebetulnya ini spektakuler, fotonya aja yang enggak*
Salah satu sudut di Angkor Wat

Mari pulang

Kesimpulan.
Sesungguhnya, 500 ribu IDR perorang itu memang worth kok untuk menjelajah kompleks candi yang luasnya bikin kangen tukang pijat. Apalagi ini candi dibuat beberapa ratus tahun yang lalu. Susah bikinnya! Kita yang jalanin aja capek, gimana orang-orang yang dulu membangunnya?

Selain luas, Angkor Wat (dan angkor-angkor lainnya) juga super cantik. Pokoknya gak habis-habis kita berdecak kagum. Kalau foto-foto kami gak menggambarkan keindahannya, percayalah itu sepenuhnya salah yang ngambil gambar.

Ah iya, tips.
Candi-candi di sini kan gede-gede banget. Setiap diturunkan di satu candi, pastikan dulu sama mas tuk-tuk (atau siapapun yang nganter) mereka akan nungguin kita di mana.
Di salah satu candi, mas tuk-tuk nurunin kami di pintu masuk dan tetap nunggu di sana. Padahal kami keluarnya di pintu keluar yang jaraknya 2 kilometer dari pintu masuk. Terpaksa deh keluar dolar ekstra buat nyewa tuktuk lain nganterin ke pintu masuk.

PS: tips di atas mungkin gak terlalu ngaruh kalau kita bisa saling menelepon dengan mas tuktuk (telepon kami hanya hidup kalo ada wifi, poor us)

-bersambung ke Bangkok-

Saturday, July 15, 2017

Paket Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 3)

Hari ketiga.
Siang-siang sekitar pukul 12.00, kami dijemput di Le Le Hotel oleh pegawai agen Hang Tep Bus. Dua bapak-bapak berseragam itu menjemput kami dengan dua motor.
Aku menggendong ranselku. Belum duduk enak, si bapak udah tancap gas. Aku gak biasa naik motor tanpa helm. Aku agak mencemaskan kepalaku. Si bapak memotong jalan dengan masuk ke gang-gang sempit, pantang ngerem kalo gak terdesak.
Hiii lega rasanya pas nyampe di kantor agen.

Setelah menunggu 5 menitan, bus kami berangkat. Lama tempuh HCMC-Phnom Penh sekitar 8 jam.
Jalan mulus dan sepi dengan pemandangan sapi, sawah, dan rumah-rumah panggung. Mirip-mirip lah kayak naik bus antarkota di Sulawesi.

Di perbatasan Vietnam-Kamboja, paspor kami dikumpulin sama kondektur bus. Paspor lalu dibawa ke petugas imigrasi, dicap, lalu dikembalikan dengan memanggil nama kami satu persatu. Wah sante banget ya ini imigrasi hahaha

Masih sore-sore, beberapa menit dari perbatasan, kami diturunkan di rumah makan. Oke, makanan pertama di Kamboja. Rasanya kayak apa ya.. Kayak rich of rempah-rempah (gak tau mengomentari makanan, tapi enak).

Oh ya, di menunya tercantum harga dalam riel (KHR), dong (VND), dan dolar (USD). Tapi pas kita bayar pake KHR, gak diterima sama ibu kasir. Padahal itu mata uang mereka loh. Si ibu malah minta dibayar dengan USD. Begitu dibayar pake USD, kembaliannya dikasih KHR. Hm…

Sekitar pukul 20.00 kami sampai di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Turun dari bus, penumpang langsung dikerubutin sama tuk-tuk driver. Tuk-tuk itu kayak bentor alias becak motor di kita.

Kami lalu menawar tuk-tuk.
“Berapa mas sampe ke sini?” sambil menyodorkan kertas berisi alamat penginapan.
“Oh 6 dolar aja, mbak”
“3 dolar aja ya mas”
“Hahaha gak bisa mbak, 6 dolar”

Sebenarnya waktu masih di bus, kami sudah sempat bertanya ke salah seorang penumpang lokal berapa range harga tuk-tuk ke penginapan kami. Dibilangnya memang sekitar 5-6 USD sih hahaha

Tapi ternyata deket loh penginapannya. #ugh

Malam itu kami tinggal di #10 Lakeside Guesthouse yang kami book malam sebelumnya via Booking.com. Dapet kamar di lantai 4 dengan view ladang dan bintang. Manis sekali.
Ah ya, nginapnya cuma 9 USD loh (sekitar 120 ribu IDR) xixixi

Yaampun, langsung berantakan aja


Setelah mandi, kami turun ke bawah untuk nyari wifi dan makan. Selama perjalanan kami memang hanya mengandalkan fasilitas wifi untuk bisa laporan ke mamak bapak. Males lah kalo harus habis seratus ribu perhari demi paket internet.

Keesokan harinya.
Bangun pagi-pagi, sarapan, dan siap-siap dijemput sama Mas Saswi. Oya, Mas Saswi ini adalah driver tuktuk semalam huehehe. Si Mas nawarin tur keliling Phnom Penh dengan 20 USD. Pas dah, daripada paginya baru kalang-kabut nyari transport.

Oleh Mas Saswi kami diajak berkeliling kota. 

Statue of King Father Norodom Sihanouk - salah satu raja kamboja yang sangat berpengaruh di masa lampau

Independence Monument - dibangun setelah merdeka dari Perancis pada tahun 1953

Tempat apa ya ini? The Royal Palace? Aku lupa hahaha

National Museum of Cambodia
Dan kunjungan yang paling melekat di hati: Choeung Euk Genocidal Center dan Tuol Sleng.

Salah satu yang bikin kami tertarik ikut tur Mas Saswi adalah karena dia menawarkan kunjungan ke tempat pembantaian.

Aku gak begitu ngerti sejarah. Tapi adikku yang pendoyan masa lalu itu, begitu mendengar sebutan “Red Khmer” langsung oke tanpa nawar.



Sesuai namanya, Genocidal Center. Artinya, tempat-tempat pembantaian lain yang lebih kecil sebetulnya banyak tersebar di Kamboja. Tapi di sinilah pusatnya.

3 USD untuk masuk ke dalam. 6 USD kalau mau pakai audio. Bagus sekali cara orang-orang ini menjaga ketenangan situs. Guide disediakan hanya dalam bentuk audio, pake headset. Baik petugas dan pengunjung memang tidak boleh ribut-ribut untuk menghormati para korban pembantaian.

Pernah dengar tentang Khmer Merah?

Singkat cerita, lepas dari Perang Vietnam, partai komunis mengambil alih kuasa atas Kamboja. Partai komunis yang dipimpin oleh Pol Pot tersebut berjaya sepanjang tahun 1975-1979. Tentaranya disebut Red Khmer (Rouge Khmer) sehingga periode berkuasanya Pol Pot disebut sebagai Rezim Khmer Merah.

Meski hanya 4 tahun, gaya berkuasa Pol Pot sangat kejam. Pol Pot ingin mengubah Kamboja jadi negara agraris dengan memaksa seluruh rakyatnya jadi buruh tani. Sesuai paham komunis, hak perorangan dihapuskan. Berani coba-coba melanggar, maka silakan menunggu jemputan untuk dikirim ke kamp konsentrasi, disiksa sambil menanti giliran eksekusi mati.

Pada masa itu, diperkirakan sekitar 3 juta warga Kamboja meninggal, dibantai oleh bangsanya sendiri.


Setelah melepas topi dan alas kaki, kami masuk ke tempat tengkorak. 

Ada ratusan tengkorak korban pembantaian disimpan dalam etalase kaca. Di setiap tengkorak melekat bukti bagaimana cara dia dibunuh.

Tengkorak para korban usia di bawah 20 tahun

Salah satu contoh alat yang digunakan untuk membunuh
Sesak rasanya mengetahui orang-orang ini dibunuh dengan cara dicangkul atau ditusuk (kepalanya) dengan alat-alat pertanian. Kenapa tidak ditembak mati saja? Pembantai tidak mau membuang-buang peluru. Amunisi mahal, katanya.

Tidak ada belas kasihan dalam rezim Khmer Merah. Mereka ingin memberantas orang-orang yang tidak sepaham sampai ke akar-akarnya, yang berarti anak-anak usia berapapun juga harus ikut dihukum mati. Bagaimana rasanya kalau hadir di sana, melihat seorang anak dipukul-pukulkan ke pohon sampai habis nyawanya?

Kepala anak-anak dipukulkan ke pohon ini sampai mati
Kami melewati banyak kuburan. Tiap kuburan, yang masing-masing hanya seluas kamar kos-kosan, ada ratusan mayat di dalamnya. Dulu tubuh korban-korban itu dibuang begitu saja ke lubang galian. Ada yang lengkap, ada yang tanpa baju, banyak juga yang tanpa kepala.

Kuburan ini menampung sekitar 450 jenazah

Yang ini menampung 166 jenazah tanpa kepala

Menampung jenazah wanita dan anak-anak. Sebagian besar tanpa pakaian.
Belum habis rasa sedih di Choeng Euk Genocidal Center, Mas Saswi mengajak kami ke Tuol Sleng. Jaraknya sekitar 10 menitan. Tuol Sleng ini dulunya adalah sebuah sekolah yang diubah menjadi penjara di jaman Pol Pot. 

Ruang-ruang tahanan, yang sebelumnya adalah ruang-ruang kelas, dipenuhi puluhan (atau mungkin ratusan) potret para tahanan. Sebelum dijebloskan ke kamp konsentrasi ini, mereka memang diharuskan difoto. Semua foto sukses bikin sesak. Baik pria, wanita, anak-anak, ekspresinya hampir sama: tidak ada. Dan semakin sesak saat ketemu foto ibu menggendong bayinya. Bayangkan rasanya jadi dia.
Aturan bagi para tahanan. Semoga tulisannya cukup jelas terbaca.

Di banyak area dilarang memotret. Di Tuol Sleng, aku hanya mengambil gambar ini saja. Cobalah baca setiap poin pelan-pelan. Tambahkan sedikit imajinasi dan rasa kemanusiaan.

Pulang dari kedua tempat itu, selain baper luar biasa, dada juga dipenuhi rasa syukur. Aku yang sedang menunggu periode Internship saja mengeluh setiap hari karena bosan setengah mati. Gimana rasanya kalau jadi orang Kamboja di jaman Pol Pot? Sambil menunggu, kaki dipasung, mata ditutup, menanti giliran kepala dibacok.

Meski demikian, pemerintah Kamboja sekarang patut diapresiasi. Dengan tujuan menghormati para korban dan agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Kamboja mau membuka “aib” masa lalunya kepada generasi-generasinya dan juga dunia luar.

Anggaplah itu semacam “Halo generasiku, ini lo kerjaan pemimpin negara kita dulu. Padahal kita sebangsa, tapi kita disiksa karena tidak menuruti apa maunya.”

Tentu tidak mudah membuka tempat ini untuk umum. Pol Pot memang sudah mati, tapi beberapa kawan-kawannya bahkan belum lama ini diadili.

Coba deh di Indonesia. Dengar-dengar, banyak hal yang disembunyikan dari buku sejarah kita. Jadi kira-kira wajarlah kalau generasi kami ini buta sejarah.

Bersambung ke Siem Reap.

Saturday, July 8, 2017

Paket Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 2)


Sekitar pukul 8.00 pagi, aku dan adik mendarat di Tan Son Nhat International Airport- Saigon.
PS: Saigon adalah nama lama dari Ho Chi Minh City (HCMC). Kayak Ujung Pandang adalah nama lamanya Makassar.

Hal pertama yang dilakukan adalah menukar dollar ke Vietnam dong (VND). Menurut para pendahulu, nilai tukar di bandara pun bagus kalo di Vietnam ini.
Sekedar perbandingan, saat itu 1 USD=13.100 IDR dan 1 USD=22.600 VND.

Karena hotel bookingan baru terima check-in pukul 14.00, kami memutuskan jalan-jalan dulu sambil mikul ransel. Dalam perjalanan ini kita memang gak bawa koper biar hemat dan gak ngerepotin diri sendiri huehe.

Kenapa hemat? Karena gak perlu beli bagasi AirAsia (tiket belum include bagasi, kecuali bagasi kabin). Selain itu, kapasitas muatan ransel akan mencegah kita dari belanja banyak-banyak (jadi no space buat oleh-oleh hahaha).

Ah sekalian cerita tentang ransel.
Sebelum berangkat aku sempatkan berburu ransel. Kriteria ransel idamanku adalah:
1. Ukuran sedang-sedang saja
2. Bisa diseret alias ada rodanya (pundakku rapuh, mas..)
3. Resletingnya kayak model koper (jadi kalau mau ngambil barang di bagian bawah gak perlu bongkar yang atas)
4. Murah.

Dan aku menemukan ransel yang memenuhi semua kriteria di atas di Matahari dengan diskon yang berlipat-lipat! Yeay! Stok terakhir pula. Yeay yeay!

Oke. Lanjut cerita.
Dari bandara kami minta diantar oleh abang taksi ke Independent Palace. Enaknya di sini, tempat-tempat tujuan turis berkumpul di satu area, jadi untuk berpindah-pindah nantinya kita cukup berjalan kaki saja.

Dan.. Ah, aku sudah tak sabar mengomentari bagian ini: para pengemudi di HCMC itu… GILA.

Jadi, seperti di kita, pengendara motor adalah yang terbanyak memenuhi jalan. Nah, gilanya apa? Gilanya adalah mereka pantang injak rem!

Kalo mau belok, jangankan ngasih lampu sein/sign, mengurangi gas aja tidak. Kalo ada pejalan kaki mau menyeberang, bukannya ngasih kesempatan, mereka malah makin terpacu menggilas kita.
Jalan raya, trotoar, teras rumah orang, semua punyanya pengendara motor. Sering banget terjadi kita lagi sante-sante jalan kaki di trotoar, trus kita diklakson dari belakang sama motor yang ikutan naik trotoar. Iyuh.

Lalu gimana cara menyeberang jalan di HCMC?
Kami perhatikan pejalan kaki lokal, wah mereka juga pantang ngerem. Mereka bisa menyeberang dengan mantap dan pandangan lurus ke depan. Hebatnya, motor-motor malah ngasih jalan daripada kalau kita menyeberang ragu-ragu. Aku jadi berpikir dengan sotoy-ku, apa ini ada kaitannya dengan paham komunis yang mereka anut? Kok semua orang merasa jalan punya nenek moyang mereka ya?

Ah ya. Aku juga ingin cerita tentang pengalaman naik taksi di Vietnam.
Setelah sepakat dengan harga (taksi di sini perlu ditawar-kata pendahulu), masuklah kita ke taksinya. Baru aja masuk, kita langsung disuruh bayar.

??!!
 
Okelah, kita pikir mungkin budaya di sini bayar taksinya di awal. Trus aku ngeluarin dompet. Eh si bapak malah minta aku mengeluarkan SEMUA uang yang aku punya dari dompetku.

Hm, aku mulai mencium aroma perampokan.

Tangannya udah terjulur mau ngambil dompetku. Dompet langsung kutarik dan aku beranjak keluar dari taksi. Si bapak lalu bilang “don’t worry don’t worry”.
Masak iya orang gak worry?

Usut punya usut, ternyata bapak itu mau lihat aku punya lembaran uang berapa aja, karena dia gak punya kembalian kalo uangnya agak gedean.
Hm.

Drama pun berakhir dengan dia mengoper kami ke taksi temennya.
Dan temennya itu adalah taksi ter ugal-ugalan yang pernah aku naiki.

Independent Palace
Masuk ke Independent Palace, kami dikenakan biaya 40.000 VND perorang. Masuk ke museum ini, kami lebih tertarik memperhatikan gaya pengunjung museum daripada isi museumnya hahah

Jadi dalam pengamatan kami yang singkat dan tak dapat dipertanggungjawabkan, kami berkesimpulan kalo cewek-cewek Vietnam di museum itu semua cantik, langsing, kinclong, rambut lurus, ber-dress kece, makeup on!

Dan ternyata setelah keluar dari museum pun, cewek-cewek Vietnam yang kami temui semua cantik, langsing, kinclong, rambut lurus, ber-dress kece, makeup on! Di mana pun loh.
Cowok-cowok pasti seneng deh cuci mata di sini.
Tapi cowok-cowok Vietnam kok kurang menggiurkan ya. #kecewa

Keluar dari museum, kita nyobain es krim yang dijual mas-mas Vietnam pake sepeda. Harganya 10.000 VND. Baru kujilat tiga kali, eh jatuh ke tanah. Hiks. Padahal rasa esnya bikin nostalgia sama es tontong yang sering kubeli pas masih SD di kampungku.

Es tontong Vietnam

Sambil cari makan, kita jalan kaki ke Notre-Dame Cathedral yang jaraknya sekitar 100 meter dari Independent Palace.

Notre-Dame Cathedral
Keren ya gerejanya? Gereja ini juga punya jam kunjungan untuk turis. Kita datang di luar jam kunjungan sebenernya, tapi dikasih masuk karena mau berdoa xixixi #thepowerofprayer

Well, makanan Vietnam yang paling wajib dicoba itu katanya Pho- sejenis mie kuah. Kita pun memilih tempat makan Pho yang tampak rame di depan katedral. Rame artinya bisa tiga: enak rasanya, murah harganya, atau enak rasanya dan murah harganya.


Foto kurang bagus karena diambil dengan gak niat alias lapar
Setelah makan kami jalan kaki ke Le Le Hotel, 15 menitan lah. Di perjalanan, ketemu sama Ben Thanh Market. Katanya ini salah satu must visit place di HCMC. Tapi kita cuma masuk 10 menit terus keluar, karena rasanya gak beda sama Pasar Mandonga (orang Kendari pasti tau huehe)

Ben Thanh Market
Dan ini hotel kami. Le Le Hotel. Bookingnya kamar untuk berdua, pas datang dikasih kamar buat bertiga. Aseeek. Tapi ada kecowaknya sebiji. Mungkin maksudnya disuruh bertiga sama si kecowak :(

Room fits to three - Le Le Hotel
Setelah bobok, mandi, kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi. Ternyata di sini bisa pake aplikasi Grab yang sama dengan Indonesia. Ah, menolong sekali.

Sama abang Grab, kami minta diturunkan di Central Post Office. Sebenarnya tempat ini tetanggaan sama katedral yang kami datangi tadi siang. Tapi tadi siang udah gak mampu explore lebih banyak… Capek mak pikul ransel! #sokbackpackertapijiwakoper

Oya, Vietnam adalah negara bekas jajahan Perancis sehingga bisa diliat arsitektur bangunan bersejarahnya agak keeropa-eropaan. Di Vietnam juga banyak bendera bergambar palu arit berkibar karena itulah paham yang mereka anut.

Central Post Office yang masih menjalankan tugasnya sebagai kantor pos (maaf tidak informatif hahaha)
Di sebelah Post Office ada gerai McDonald. Tiba-tiba aku dan adik sehati pengen nyobain menu McD Vietnam. Eh ternyata saudara-saudara, ada menu “haram”nya! #hore #selamatmakan
 
Setelah kenyang wifi, eh McD, kami kembali berjalan kaki mencari objek berikutnya. Berbekal peta dari hotel, kami sampai ke People’s Committee.

People's Comittee. Itu di depan patung Pak Ho Chi Minh

Terus jalan kaki lagi ke Saigon Opera House…

Saigon Opera House

Terus jalan kaki lagi ke Saigon Riverside…

#gakadafotonya #gelap #hitam

Btw banyak banget pasangan mojok di pinggir kali ini. Ada belasan tempat duduk menghadap ke sungai, semuanya penuh diisi orang pacaran. Herannya, orang-orang ini kok tahan ya padahal sungainya beraroma got. Inikah kekuatan cinta?

Kemudian kami jalan lagi ke Benh Thanh Market. Katanya kalo malam berubah jadi Night Market. Kirain bakal banyak makanan seperti pasar malam pada umumnya, gak taunya isinya pedagang baju tok.

Dari Night Market, jalan kaki 5 menit nyampe di Le Le Hotel.

Begitu nyampe, kami mulai mencari tiket bus (via online) untuk berangkat ke Phnom Penh-Kamboja besok paginya. Kukira akan mudah mendapat tiketnya. Eh udah browsing 2 jam, gak ketemu juga. Abang resepsionis hotel juga bilang “telat mbak, baru nyari sekarang”.

Akhirnya kami nemu tiket bus, tapi berangkatnya siang. Yah, padahal di jalan itu akan memakan waktu 8 jam. Otomatis itinerary pun bergeser semua. Penginapan juga jadi harus nambah semalam (di Phnom Penh). 

Ya sudahlah ya. Namanya juga jalan sendiri. Kurang persiapan ya salah sendiri. Gak ada tur. Gak ada yang bantu. Adanya cuma adik gendut yang untungnya lucu. 

Bersambung ke Kamboja 😀

Wednesday, July 5, 2017

Paket Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (Part 1)

Akhirnya aku menulis. Setelah ada yang minta.

Jadi, tanggal 19-26 Juni 2017 kemarin, aku dan Utet, adikku yang besar dan lucu itu, memutuskan untuk melakukan budget travel keliling Asia Tenggara. Biaya perjalanan disponsori oleh tabungan sendiri dan sumbangan bapak kami hahaha.
 
Sebenarnya awalnya cuma iseng-iseng memantau tiket promo AirAsia, eh kok lumayan ini harga tiket ke Bangkok. Trus lihat-lihat blog orang, eh kok banyak yang menjelajah Vietnam-Kamboja-Thailand dalam sekali jalan. Durasinya juga masih memungkinkan, sekitar 1 minggu. Dan asal jalan-jalannya gak neko-neko, biaya main ke 3 negara tersebut juga masih bisa diusahakan.

Akhirnya kami pun mengajukan ijin ke bapak yang alhamdulilah diacc. Mungkin karena tabiat kami yang baik selama kuliah di perantauan #apasih. Lalu kami bilang ke bapak, kami mau pake duit tabungan. Tapi kalo ternyata gak cukup, pinjem duit bapak ya huehehehe. Eh tapi Bapak kasih cuma-cuma untuk kekurangan kami. Gak sopan kalo menolak kebaikan hati orang tua kan ya? Hehehehe

Sekitar sebulan sebelum berangkat, kami membeli tiket pesawat Denpasar-Ho Chi Minh City dan pulangnya Bangkok-Denpasar. Dengan AirAsia, kami dapet sekitar 2,7 juta IDR perorang pulang-pergi. Gak lebih mahal dari tiketku kalo pulang kampung Denpasar-Kendari. Setelah tiket beres, kami booking penginapan lewat booking.com. Cuma dibooking tok, bayarnya pas nyampe di penginapan. Cari yang bisa free cancelation. Oiya, jangan lupa tukar rupiahnya dulu di Indonesia karena semua orang tau nilai tukar mata uang kita buruk, jadi bawa dollar saja.
 
Adikku, si Utet, kuliahnya di Jogja. Jadi sehari sebelum berangkat, dia mampir dulu ke Denpasar biar kita bisa berangkat bareng.

O iya aku gak ingin terlupa satu cerita ini, jadi harus kucantumkan xixixi.
Jadi, waktu di bandara Ngurah Rai, paspor kita kan dicek ya.
Petugasnya ini kaget pas liat paspor adikku, “Wah, kamu udah pernah ke Mesir!”
Trus dia balik lagi halaman paspornya “Kamu juga udah pernah ke Yordania! Ke Palestina juga!”
Adikku senyum-senyum aja sambil hidungnya kembang-kempis, “Iya hehehe”
Lalu si petugas bilang, “Wah kamu TKI ya”

Gubrak.

Jangan-jangan adikku dikira pembokatnya orang Timur Tengah.
Kasian. Cupcupcup.
Terus adikku bilang “Enggak, saya ziarah hehe”
Petugas, “Ziarah apaan ke sana?”
Adek, “Ziarah orang Katolik, pak..”
Petugas, “Oh benar juga ya. Saya juga orang Katolik hehehe”

Hahahaha gak tau harus bereaksi apa. Tampilan kita emang kayak TKI sih. Apa boleh buat. Tapi tengok kanan-kiri, bule-bule lain juga banyak yang gayanya kayak gembel. Yang selalu modis mah orang Asia. Orang Asia selain kita, maksudnya. Hahaha

Aku bilang ke adekku “Harusnya cap Israelmu jangan disembunyikan, biar makin syok dia”
Adek, “Sembunyiin aja. Banyak negara gak mau terima turis yang udah pernah ke Israel”

Itu pengetahuan baru loh buatku. Jadi Israel pun cukup tau diri bahwa negaranya banyak yang gak seneng. Jadi cap imigrasi Israel itu gak di paspor kita langsung, tapi di kertas tersendiri. Biar kalo yang bersangkutan pengen ke mana-mana, dia gak ditolak hanya karena pernah mengunjungi Israel.

Baiklah, kita lanjutkan cerita.
Penerbangan ke Ho Chi Minh City, pakai transit dulu di Kuala Lumpur selama 12 jam. Aseeek. Sengaja sih cari penerbangan yang ini biar bisa jalan-jalan dulu di KL hehehehe. Karena waktu teramat singkat, target kami hanya main ke Jalan Alor di Bukit Bintang. Jalan Alor terkenal karena sepanjang jalan isinya pedagang makanan tok. Ah, worth a visit.

Di sini pun terjadi beberapa pengeluaran yang tak terencanakan, tak diinginkan, tapi jadi bahan pembelajaran. Nah, kita kan cuma bawa dollar, karena mikir tar tukar aja di masing-masing negara yang mau dikunjungi. Eh gak taunya nyampe di Malaysia lebih malem dari perkiraan. Money changer di bandara aja banyak yang tutup, kalo nekat keluar imigrasi bisa gak hidup kita. Akhirnya ketemu juga sih sebuah money changer yang masih buka, walaupun nilai tukarnya jelek (yaiyalah, nuker kok di airport #mengutukdiri). Kami cuma menukar sedikit uang di sana dan berharap bisa menukar lagi di Bukit Bintang.

Pelajaran: selain di bandara, hindari nukar duit di tengah malam gelap, apalagi di money changer gak resmi. Orang pasti mikir, "ini anak ngapain nuker duit tengah malam, lagi butuh banget pasti yaa, bodo-bodoin aah". Gitu.

Jalan Alor
Dari bandara kita naik bus ke KL Sentral (RM 12 perorang) dilanjutkan naik monorail sekitar RM 2. Nah, pas balik ke bandaranya ini.. Udah lewat jam 12 malem kan, udah gak ada public transport beroperasi. Yaudah pake taksi jadinya. Hiks habis RM 85. Itu pun udah pake berdebat sama supirnya.

Awalnya dia setuju RM 50, jadi naiklah kita ke taksi, eh pas di jalan dia bilang “Miss, itu dikit banget lo RM 50. Coba kita jalanin argonya yaa.. pasti nyampe RM 100. Ayolah, Miss..”

Hm. Negara orang. Tengah malam. Di dalem taksi. Kita perempuan. Supir memohon. Kalo gak dikabulkan, aku gak berani membayangkan hal terburuk apa yang mungkin menimpa. Akhirnya kami sepakat dengan RM 85 hahaha. Tapi emang terbukti sih kata si driver hueheheh, maaf ya pak. Tapi bapak juga sih, kan sebelum kita naik udah deal…

PS: kata para pendahulu, naik taksi di sini memang pakai acara tawar menawar walaupun taksi ada argo.

Ah sudahlah.. Memang perjalanan gak boleh terlalu mulus.

Balik ke bandara udah sekitar jam 01.30. Penerbangan kita ke Ho Chi Minh City jam 7 pagi. Jadi kita bobok manis dulu di bandara. Horeee ternyata kami banyak teman alias banyak banget orang yang memutuskan menggelandang di sana. Sampe sulit cari lantai kosong yang enak. Hm jadi ini manfaat dari aku latihan tidur di lantai rumah sakit selama jadi koas. Lantai yang dingin pun rasanya sedap-sedap aja hahaha.

Happy Gembels
Udah sih gitu aja main ke Malaysianya hahaha.

Bersambung ke Vietnam 😊

Friday, October 24, 2014

Live on Board: Pulau Komodo dkk #day4

Finally kita bobok di hotel :')
Di kabin seru juga sih, tapi panes juga, bau bensin juga. Syukur ombaknya gak berasa.

Tapi, tapi, waktu masih di kapal, lautan rasanya tenaang banget. Kayaknya gak ada bedanya sama di daratan. Dan sekarang begitu perjalanan Live on Board ini berakhir, malah tanahnya yang terasa berombak. Puyeng :$

Dan itu berlangsung sampai 3 hari.
Ah itu biasa.

Ya lanjut2. Jadi pagi itu kami sarapan di kamar. Nasi goreng, mie goreng, dsb2 dan jujur aku lebih suka masakan Om Noah. #hai,om #missyourcuisine,om.

Di hari terakhir itu kami berencana mengunjungi Gua Batu Cermin, lalu ke Paradise Bar buat makan siang, trus mampir ke oleh2 sebentar, dan kemudian balik ke Denpasar di sore hari.

Oke, ini review sedikit ttg Mirror Stone Cave alias Gua Batu Cermin!





Perjalanan ke sana gak lama dari Hotel Pagi. Kayaknya Labuan Bajo ini memang kecil, jadi semua tempat deket2 aja rasanya.

Well, ini adalah pengalaman pertamaku menjelajah gua dan menurutku ini menarik banget. Di dalam bener2 gelap gulita, merinding membayangkan ada ular, kelelawar, tarantula, atau binatang2 tak menyenangkan lainnya. Tapi ternyata semua aman2 aja.





Sebelum masuk, kita dipakein topi kayak topi insinyur gitu. Memang berguna banget, karena kepala ini sangat suka menabrak langit2 gua. Trus masuk deh ke dalam pelan2 ditemenin abang2 penjaga gua (apa ya istilahnya? Hmm tour guide).

Konon menurut para peneliti, gua ini dulunya duluuu banget ada di dasar laut. Itu dibuktikan dg dinding2 batunya yg memang kebanyakan menyerupai terumbu karang dll yg normalnya ada di laut. Bahkan ada batu di langit2 yg miriiip banget sama penyu. Kayak fosil penyu yg nempel di langit2 gua gitu. Trus banyak juga kristal2 yang menempel di dinding gua, katanya (kalo gak salah ya) sisa garam, bekas garam, tanda garam, ya apalah namanya itu yg intinya mau bilang, gua ini dulunya emang di dasar laut loh..

Dan ada satu lagi yg hebat. Kita ditunjukin sama si om, di langit2 gua ada cahaya yg bersinar yg berbentuk seperti seorang wanita berkerudung, sedang berdiri sambil mengatupkan tangannya di depan dada. Dan orang sana percaya, itu mirip banget sama Bunda Maria. Luar biasa ya :)

Trus kenapa dibilang Gua Batu Cermin?
Jadi kalo lagi musim hujan, gua itu bisa kebanjiran dan orang jadi gak bisa masuk. Tapi ada suatu sudut di gua itu yang bisa diintip dari atas (dari luar), dan kalo kita lihat dari sana pas guanya lagi banjir gitu, seperti memancarkan sesuatu. Apa ya waktu itu dibilang. Cahaya? Bayangan? Udah gak inget. Salah sendiri nulis blognya 2 bulan setelah kejadian :|

Yah pokoknya dari sanalah asal usul nama gua berasal.



Selesai main di gua, anak2 pergi makan siang di Paradise Bar.
Tempatnya kayak tempat anak rasta2 gitu.

Makanannya yg paling enak sampe kita nambah itu cumi telur asin seingetku. Top pokoke :9



Kece ya tangganya. Ada kakinya mbak dwi

Kulit udah agak eksotis. Lumayan bekerja juga tanning oilku ♡



Kenyang makan seafood (lagi), perjalanan yg indah ini pun harus berakhir. Hiks. Padahal udah lewat 2 bulan nok (logat balinya muncul). Tapi menceritakan kembali liburan-saat-gak-liburan ini menimbulkan nostalgia yg menyenangkan dan sedih juga saat sampai di bagian terakhir :(

Yah sore itu kami diantar ke tujuan terakhir kami di Labuan Bajo, yaitu airport. Hiks. Eh enggak deng, masih singgah di toko oleh2 pas depan bandara buat beli kaos si komo. Btw si Alan beli pajangan komodo juga yg harganya 375 rb. Ih sinting. Eh enggak, bagus lan, membantu pariwisata Indonesia.

Okokee sekian review perjalanan yg membahagiakan ini.

Kesimpulan yg kutarik dari Komodo Islands Trip bareng temen2 ini ada 2 besar:

1. Jalan2lah selagi muda. Ada waktu dan ada tenaga
2. Alam Indonesia emang kece banget! Gak sabar pergi ke belahan lain negara ini!

Sekian. Selamat bobok. :)