Pages

Saturday, July 15, 2017

Jalan Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 3)

Hari ketiga.
Siang-siang sekitar pukul 12.00, kami dijemput di Le Le Hotel oleh pegawai agen Hang Tep Bus. Dua bapak-bapak berseragam itu menjemput kami dengan dua motor.
Aku menggendong ranselku. Belum duduk enak, si bapak udah tancap gas. Aku gak biasa naik motor tanpa helm. Aku agak mencemaskan kepalaku. Si bapak memotong jalan dengan masuk ke gang-gang sempit, pantang ngerem kalo gak terdesak.
Hiii lega rasanya pas nyampe di kantor agen.

Setelah menunggu 5 menitan, bus kami berangkat. Lama tempuh HCMC-Phnom Penh sekitar 8 jam.
Jalan mulus dan sepi dengan pemandangan sapi, sawah, dan rumah-rumah panggung. Mirip-mirip lah kayak naik bus antarkota di Sulawesi.

Di perbatasan Vietnam-Kamboja, paspor kami dikumpulin sama kondektur bus. Paspor lalu dibawa ke petugas imigrasi, dicap, lalu dikembalikan dengan memanggil nama kami satu persatu. Wah sante banget ya ini imigrasi hahaha

Masih sore-sore, beberapa menit dari perbatasan, kami diturunkan di rumah makan. Oke, makanan pertama di Kamboja. Rasanya kayak apa ya.. Kayak rich of rempah-rempah (gak tau mengomentari makanan, tapi enak).

Oh ya, di menunya tercantum harga dalam riel (KHR), dong (VND), dan dolar (USD). Tapi pas kita bayar pake KHR, gak diterima sama ibu kasir. Padahal itu mata uang mereka loh. Si ibu malah minta dibayar dengan USD. Begitu dibayar pake USD, kembaliannya dikasih KHR. Hm…

Sekitar pukul 20.00 kami sampai di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Turun dari bus, penumpang langsung dikerubutin sama tuk-tuk driver. Tuk-tuk itu kayak bentor alias becak motor di kita.

Kami lalu menawar tuk-tuk.
“Berapa mas sampe ke sini?” sambil menyodorkan kertas berisi alamat penginapan.
“Oh 6 dolar aja, mbak”
“3 dolar aja ya mas”
“Hahaha gak bisa mbak, 6 dolar”

Sebenarnya waktu masih di bus, kami sudah sempat bertanya ke salah seorang penumpang lokal berapa range harga tuk-tuk ke penginapan kami. Dibilangnya memang sekitar 5-6 USD sih hahaha

Tapi ternyata deket loh penginapannya. #ugh

Malam itu kami tinggal di #10 Lakeside Guesthouse yang kami book malam sebelumnya via Booking.com. Dapet kamar di lantai 4 dengan view ladang dan bintang. Manis sekali.
Ah ya, nginapnya cuma 9 USD loh (sekitar 120 ribu IDR) xixixi

Yaampun, langsung berantakan aja


Setelah mandi, kami turun ke bawah untuk nyari wifi dan makan. Selama perjalanan kami memang hanya mengandalkan fasilitas wifi untuk bisa laporan ke mamak bapak. Males lah kalo harus habis seratus ribu perhari demi paket internet.

Keesokan harinya.
Bangun pagi-pagi, sarapan, dan siap-siap dijemput sama Mas Saswi. Oya, Mas Saswi ini adalah driver tuktuk semalam huehehe. Si Mas nawarin tur keliling Phnom Penh dengan 20 USD. Pas dah, daripada paginya baru kalang-kabut nyari transport.

Oleh Mas Saswi kami diajak berkeliling kota. 

Statue of King Father Norodom Sihanouk - salah satu raja kamboja yang sangat berpengaruh di masa lampau

Independence Monument - dibangun setelah merdeka dari Perancis pada tahun 1953

Tempat apa ya ini? The Royal Palace? Aku lupa hahaha

National Museum of Cambodia
Dan kunjungan yang paling melekat di hati: Choeung Euk Genocidal Center dan Tuol Sleng.

Salah satu yang bikin kami tertarik ikut tur Mas Saswi adalah karena dia menawarkan kunjungan ke tempat pembantaian.

Aku gak begitu ngerti sejarah. Tapi adikku yang pendoyan masa lalu itu, begitu mendengar sebutan “Red Khmer” langsung oke tanpa nawar.



Sesuai namanya, Genocidal Center. Artinya, tempat-tempat pembantaian lain yang lebih kecil sebetulnya banyak tersebar di Kamboja. Tapi di sinilah pusatnya.

3 USD untuk masuk ke dalam. 6 USD kalau mau pakai audio. Bagus sekali cara orang-orang ini menjaga ketenangan situs. Guide disediakan hanya dalam bentuk audio, pake headset. Baik petugas dan pengunjung memang tidak boleh ribut-ribut untuk menghormati para korban pembantaian.

Pernah dengar tentang Khmer Merah?

Singkat cerita, lepas dari Perang Vietnam, partai komunis mengambil alih kuasa atas Kamboja. Partai komunis yang dipimpin oleh Pol Pot tersebut berjaya sepanjang tahun 1975-1979. Tentaranya disebut Red Khmer (Rouge Khmer) sehingga periode berkuasanya Pol Pot disebut sebagai Rezim Khmer Merah.

Meski hanya 4 tahun, gaya berkuasa Pol Pot sangat kejam. Pol Pot ingin mengubah Kamboja jadi negara agraris dengan memaksa seluruh rakyatnya jadi buruh tani. Sesuai paham komunis, hak perorangan dihapuskan. Berani coba-coba melanggar, maka silakan menunggu jemputan untuk dikirim ke kamp konsentrasi, disiksa sambil menanti giliran eksekusi mati.

Pada masa itu, diperkirakan sekitar 3 juta warga Kamboja meninggal, dibantai oleh bangsanya sendiri.


Setelah melepas topi dan alas kaki, kami masuk ke tempat tengkorak. 

Ada ratusan tengkorak korban pembantaian disimpan dalam etalase kaca. Di setiap tengkorak melekat bukti bagaimana cara dia dibunuh.

Tengkorak para korban usia di bawah 20 tahun

Salah satu contoh alat yang digunakan untuk membunuh
Sesak rasanya mengetahui orang-orang ini dibunuh dengan cara dicangkul atau ditusuk (kepalanya) dengan alat-alat pertanian. Kenapa tidak ditembak mati saja? Pembantai tidak mau membuang-buang peluru. Amunisi mahal, katanya.

Tidak ada belas kasihan dalam rezim Khmer Merah. Mereka ingin memberantas orang-orang yang tidak sepaham sampai ke akar-akarnya, yang berarti anak-anak usia berapapun juga harus ikut dihukum mati. Bagaimana rasanya kalau hadir di sana, melihat seorang anak dipukul-pukulkan ke pohon sampai habis nyawanya?

Kepala anak-anak dipukulkan ke pohon ini sampai mati
Kami melewati banyak kuburan. Tiap kuburan, yang masing-masing hanya seluas kamar kos-kosan, ada ratusan mayat di dalamnya. Dulu tubuh korban-korban itu dibuang begitu saja ke lubang galian. Ada yang lengkap, ada yang tanpa baju, banyak juga yang tanpa kepala.

Kuburan ini menampung sekitar 450 jenazah

Yang ini menampung 166 jenazah tanpa kepala

Menampung jenazah wanita dan anak-anak. Sebagian besar tanpa pakaian.
Belum habis rasa sedih di Choeng Euk Genocidal Center, Mas Saswi mengajak kami ke Tuol Sleng. Jaraknya sekitar 10 menitan. Tuol Sleng ini dulunya adalah sebuah sekolah yang diubah menjadi penjara di jaman Pol Pot. 

Ruang-ruang tahanan, yang sebelumnya adalah ruang-ruang kelas, dipenuhi puluhan (atau mungkin ratusan) potret para tahanan. Sebelum dijebloskan ke kamp konsentrasi ini, mereka memang diharuskan difoto. Semua foto sukses bikin sesak. Baik pria, wanita, anak-anak, ekspresinya hampir sama: tidak ada. Dan semakin sesak saat ketemu foto ibu menggendong bayinya. Bayangkan rasanya jadi dia.
Aturan bagi para tahanan. Semoga tulisannya cukup jelas terbaca.

Di banyak area dilarang memotret. Di Tuol Sleng, aku hanya mengambil gambar ini saja. Cobalah baca setiap poin pelan-pelan. Tambahkan sedikit imajinasi dan rasa kemanusiaan.

Pulang dari kedua tempat itu, selain baper luar biasa, dada juga dipenuhi rasa syukur. Aku yang sedang menunggu periode Internship saja mengeluh setiap hari karena bosan setengah mati. Gimana rasanya kalau jadi orang Kamboja di jaman Pol Pot? Sambil menunggu, kaki dipasung, mata ditutup, menanti giliran kepala dibacok.

Meski demikian, pemerintah Kamboja sekarang patut diapresiasi. Dengan tujuan menghormati para korban dan agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Kamboja mau membuka “aib” masa lalunya kepada generasi-generasinya dan juga dunia luar.

Anggaplah itu semacam “Halo generasiku, ini lo kerjaan pemimpin negara kita dulu. Padahal kita sebangsa, tapi kita disiksa karena tidak menuruti apa maunya.”

Tentu tidak mudah membuka tempat ini untuk umum. Pol Pot memang sudah mati, tapi beberapa kawan-kawannya bahkan belum lama ini diadili.

Coba deh di Indonesia. Dengar-dengar, banyak hal yang disembunyikan dari buku sejarah kita. Jadi kira-kira wajarlah kalau generasi kami ini buta sejarah.

Bersambung ke Siem Reap.

Saturday, July 8, 2017

Jalan Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (part 2)


Sekitar pukul 8.00 pagi, aku dan adik mendarat di Tan Son Nhat International Airport- Saigon.
PS: Saigon adalah nama lama dari Ho Chi Minh City (HCMC). Kayak Ujung Pandang adalah nama lamanya Makassar.

Hal pertama yang dilakukan adalah menukar dollar ke Vietnam dong (VND). Menurut para pendahulu, nilai tukar di bandara pun bagus kalo di Vietnam ini.
Sekedar perbandingan, saat itu 1 USD=13.100 IDR dan 1 USD=22.600 VND.

Karena hotel bookingan baru terima check-in pukul 14.00, kami memutuskan jalan-jalan dulu sambil mikul ransel. Dalam perjalanan ini kita memang gak bawa koper biar hemat dan gak ngerepotin diri sendiri huehe.

Kenapa hemat? Karena gak perlu beli bagasi AirAsia (tiket belum include bagasi, kecuali bagasi kabin). Selain itu, kapasitas muatan ransel akan mencegah kita dari belanja banyak-banyak (jadi no space buat oleh-oleh hahaha).

Ah sekalian cerita tentang ransel.
Sebelum berangkat aku sempatkan berburu ransel. Kriteria ransel idamanku adalah:
1. Ukuran sedang-sedang saja
2. Bisa diseret alias ada rodanya (pundakku rapuh, mas..)
3. Resletingnya kayak model koper (jadi kalau mau ngambil barang di bagian bawah gak perlu bongkar yang atas)
4. Murah.

Dan aku menemukan ransel yang memenuhi semua kriteria di atas di Matahari dengan diskon yang berlipat-lipat! Yeay! Stok terakhir pula. Yeay yeay!

Oke. Lanjut cerita.
Dari bandara kami minta diantar oleh abang taksi ke Independent Palace. Enaknya di sini, tempat-tempat tujuan turis berkumpul di satu area, jadi untuk berpindah-pindah nantinya kita cukup berjalan kaki saja.

Dan.. Ah, aku sudah tak sabar mengomentari bagian ini: para pengemudi di HCMC itu… GILA.

Jadi, seperti di kita, pengendara motor adalah yang terbanyak memenuhi jalan. Nah, gilanya apa? Gilanya adalah mereka pantang injak rem!

Kalo mau belok, jangankan ngasih lampu sein/sign, mengurangi gas aja tidak. Kalo ada pejalan kaki mau menyeberang, bukannya ngasih kesempatan, mereka malah makin terpacu menggilas kita.
Jalan raya, trotoar, teras rumah orang, semua punyanya pengendara motor. Sering banget terjadi kita lagi sante-sante jalan kaki di trotoar, trus kita diklakson dari belakang sama motor yang ikutan naik trotoar. Iyuh.

Lalu gimana cara menyeberang jalan di HCMC?
Kami perhatikan pejalan kaki lokal, wah mereka juga pantang ngerem. Mereka bisa menyeberang dengan mantap dan pandangan lurus ke depan. Hebatnya, motor-motor malah ngasih jalan daripada kalau kita menyeberang ragu-ragu. Aku jadi berpikir dengan sotoy-ku, apa ini ada kaitannya dengan paham komunis yang mereka anut? Kok semua orang merasa jalan punya nenek moyang mereka ya?

Ah ya. Aku juga ingin cerita tentang pengalaman naik taksi di Vietnam.
Setelah sepakat dengan harga (taksi di sini perlu ditawar-kata pendahulu), masuklah kita ke taksinya. Baru aja masuk, kita langsung disuruh bayar.

??!!
 
Okelah, kita pikir mungkin budaya di sini bayar taksinya di awal. Trus aku ngeluarin dompet. Eh si bapak malah minta aku mengeluarkan SEMUA uang yang aku punya dari dompetku.

Hm, aku mulai mencium aroma perampokan.

Tangannya udah terjulur mau ngambil dompetku. Dompet langsung kutarik dan aku beranjak keluar dari taksi. Si bapak lalu bilang “don’t worry don’t worry”.
Masak iya orang gak worry?

Usut punya usut, ternyata bapak itu mau lihat aku punya lembaran uang berapa aja, karena dia gak punya kembalian kalo uangnya agak gedean.
Hm.

Drama pun berakhir dengan dia mengoper kami ke taksi temennya.
Dan temennya itu adalah taksi ter ugal-ugalan yang pernah aku naiki.

Independent Palace
Masuk ke Independent Palace, kami dikenakan biaya 40.000 VND perorang. Masuk ke museum ini, kami lebih tertarik memperhatikan gaya pengunjung museum daripada isi museumnya hahah

Jadi dalam pengamatan kami yang singkat dan tak dapat dipertanggungjawabkan, kami berkesimpulan kalo cewek-cewek Vietnam di museum itu semua cantik, langsing, kinclong, rambut lurus, ber-dress kece, makeup on!

Dan ternyata setelah keluar dari museum pun, cewek-cewek Vietnam yang kami temui semua cantik, langsing, kinclong, rambut lurus, ber-dress kece, makeup on! Di mana pun loh.
Cowok-cowok pasti seneng deh cuci mata di sini.
Tapi cowok-cowok Vietnam kok kurang menggiurkan ya. #kecewa

Keluar dari museum, kita nyobain es krim yang dijual mas-mas Vietnam pake sepeda. Harganya 10.000 VND. Baru kujilat tiga kali, eh jatuh ke tanah. Hiks. Padahal rasa esnya bikin nostalgia sama es tontong yang sering kubeli pas masih SD di kampungku.

Es tontong Vietnam

Sambil cari makan, kita jalan kaki ke Notre-Dame Cathedral yang jaraknya sekitar 100 meter dari Independent Palace.

Notre-Dame Cathedral
Keren ya gerejanya? Gereja ini juga punya jam kunjungan untuk turis. Kita datang di luar jam kunjungan sebenernya, tapi dikasih masuk karena mau berdoa xixixi #thepowerofprayer

Well, makanan Vietnam yang paling wajib dicoba itu katanya Pho- sejenis mie kuah. Kita pun memilih tempat makan Pho yang tampak rame di depan katedral. Rame artinya bisa tiga: enak rasanya, murah harganya, atau enak rasanya dan murah harganya.


Foto kurang bagus karena diambil dengan gak niat alias lapar
Setelah makan kami jalan kaki ke Le Le Hotel, 15 menitan lah. Di perjalanan, ketemu sama Ben Thanh Market. Katanya ini salah satu must visit place di HCMC. Tapi kita cuma masuk 10 menit terus keluar, karena rasanya gak beda sama Pasar Mandonga (orang Kendari pasti tau huehe)

Ben Thanh Market
Dan ini hotel kami. Le Le Hotel. Bookingnya kamar untuk berdua, pas datang dikasih kamar buat bertiga. Aseeek. Tapi ada kecowaknya sebiji. Mungkin maksudnya disuruh bertiga sama si kecowak :(

Room fits to three - Le Le Hotel
Setelah bobok, mandi, kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi. Ternyata di sini bisa pake aplikasi Grab yang sama dengan Indonesia. Ah, menolong sekali.

Sama abang Grab, kami minta diturunkan di Central Post Office. Sebenarnya tempat ini tetanggaan sama katedral yang kami datangi tadi siang. Tapi tadi siang udah gak mampu explore lebih banyak… Capek mak pikul ransel! #sokbackpackertapijiwakoper

Oya, Vietnam adalah negara bekas jajahan Perancis sehingga bisa diliat arsitektur bangunan bersejarahnya agak keeropa-eropaan. Di Vietnam juga banyak bendera bergambar palu arit berkibar karena itulah paham yang mereka anut.

Central Post Office yang masih menjalankan tugasnya sebagai kantor pos (maaf tidak informatif hahaha)
Di sebelah Post Office ada gerai McDonald. Tiba-tiba aku dan adik sehati pengen nyobain menu McD Vietnam. Eh ternyata saudara-saudara, ada menu “haram”nya! #hore #selamatmakan
 
Setelah kenyang wifi, eh McD, kami kembali berjalan kaki mencari objek berikutnya. Berbekal peta dari hotel, kami sampai ke People’s Committee.

People's Comittee. Itu di depan patung Pak Ho Chi Minh

Terus jalan kaki lagi ke Saigon Opera House…

Saigon Opera House

Terus jalan kaki lagi ke Saigon Riverside…

#gakadafotonya #gelap #hitam

Btw banyak banget pasangan mojok di pinggir kali ini. Ada belasan tempat duduk menghadap ke sungai, semuanya penuh diisi orang pacaran. Herannya, orang-orang ini kok tahan ya padahal sungainya beraroma got. Inikah kekuatan cinta?

Kemudian kami jalan lagi ke Benh Thanh Market. Katanya kalo malam berubah jadi Night Market. Kirain bakal banyak makanan seperti pasar malam pada umumnya, gak taunya isinya pedagang baju tok.

Dari Night Market, jalan kaki 5 menit nyampe di Le Le Hotel.

Begitu nyampe, kami mulai mencari tiket bus (via online) untuk berangkat ke Phnom Penh-Kamboja besok paginya. Kukira akan mudah mendapat tiketnya. Eh udah browsing 2 jam, gak ketemu juga. Abang resepsionis hotel juga bilang “telat mbak, baru nyari sekarang”.

Akhirnya kami nemu tiket bus, tapi berangkatnya siang. Yah, padahal di jalan itu akan memakan waktu 8 jam. Otomatis itinerary pun bergeser semua. Penginapan juga jadi harus nambah semalam (di Phnom Penh). 

Ya sudahlah ya. Namanya juga jalan sendiri. Kurang persiapan ya salah sendiri. Gak ada tur. Gak ada yang bantu. Adanya cuma adik gendut yang untungnya lucu. 

Bersambung ke Kamboja 😀

Wednesday, July 5, 2017

Jalan Hemat: 4 Negara Asia Tenggara (Part 1)

Akhirnya aku menulis. Setelah ada yang minta.

Jadi, tanggal 19-26 Juni 2017 kemarin, aku dan Utet, adikku yang besar dan lucu itu, memutuskan untuk melakukan budget travel keliling Asia Tenggara. Biaya perjalanan disponsori oleh tabungan sendiri dan sumbangan bapak kami hahaha.
 
Sebenarnya awalnya cuma iseng-iseng memantau tiket promo AirAsia, eh kok lumayan ini harga tiket ke Bangkok. Trus lihat-lihat blog orang, eh kok banyak yang menjelajah Vietnam-Kamboja-Thailand dalam sekali jalan. Durasinya juga masih memungkinkan, sekitar 1 minggu. Dan asal jalan-jalannya gak neko-neko, biaya main ke 3 negara tersebut juga masih bisa diusahakan.

Akhirnya kami pun mengajukan ijin ke bapak yang alhamdulilah diacc. Mungkin karena tabiat kami yang baik selama kuliah di perantauan #apasih. Lalu kami bilang ke bapak, kami mau pake duit tabungan. Tapi kalo ternyata gak cukup, pinjem duit bapak ya huehehehe. Eh tapi Bapak kasih cuma-cuma untuk kekurangan kami. Gak sopan kalo menolak kebaikan hati orang tua kan ya? Hehehehe

Sekitar sebulan sebelum berangkat, kami membeli tiket pesawat Denpasar-Ho Chi Minh City dan pulangnya Bangkok-Denpasar. Dengan AirAsia, kami dapet sekitar 2,7 juta IDR perorang pulang-pergi. Gak lebih mahal dari tiketku kalo pulang kampung Denpasar-Kendari. Setelah tiket beres, kami booking penginapan lewat booking.com. Cuma dibooking tok, bayarnya pas nyampe di penginapan. Cari yang bisa free cancelation. Oiya, jangan lupa tukar rupiahnya dulu di Indonesia karena semua orang tau nilai tukar mata uang kita buruk, jadi bawa dollar saja.
 
Adikku, si Utet, kuliahnya di Jogja. Jadi sehari sebelum berangkat, dia mampir dulu ke Denpasar biar kita bisa berangkat bareng.

O iya aku gak ingin terlupa satu cerita ini, jadi harus kucantumkan xixixi.
Jadi, waktu di bandara Ngurah Rai, paspor kita kan dicek ya.
Petugasnya ini kaget pas liat paspor adikku, “Wah, kamu udah pernah ke Mesir!”
Trus dia balik lagi halaman paspornya “Kamu juga udah pernah ke Yordania! Ke Palestina juga!”
Adikku senyum-senyum aja sambil hidungnya kembang-kempis, “Iya hehehe”
Lalu si petugas bilang, “Wah kamu TKI ya”

Gubrak.

Jangan-jangan adikku dikira pembokatnya orang Timur Tengah.
Kasian. Cupcupcup.
Terus adikku bilang “Enggak, saya ziarah hehe”
Petugas, “Ziarah apaan ke sana?”
Adek, “Ziarah orang Katolik, pak..”
Petugas, “Oh benar juga ya. Saya juga orang Katolik hehehe”

Hahahaha gak tau harus bereaksi apa. Tampilan kita emang kayak TKI sih. Apa boleh buat. Tapi tengok kanan-kiri, bule-bule lain juga banyak yang gayanya kayak gembel. Yang selalu modis mah orang Asia. Orang Asia selain kita, maksudnya. Hahaha

Aku bilang ke adekku “Harusnya cap Israelmu jangan disembunyikan, biar makin syok dia”
Adek, “Sembunyiin aja. Banyak negara gak mau terima turis yang udah pernah ke Israel”

Itu pengetahuan baru loh buatku. Jadi Israel pun cukup tau diri bahwa negaranya banyak yang gak seneng. Jadi cap imigrasi Israel itu gak di paspor kita langsung, tapi di kertas tersendiri. Biar kalo yang bersangkutan pengen ke mana-mana, dia gak ditolak hanya karena pernah mengunjungi Israel.

Baiklah, kita lanjutkan cerita.
Penerbangan ke Ho Chi Minh City, pakai transit dulu di Kuala Lumpur selama 12 jam. Aseeek. Sengaja sih cari penerbangan yang ini biar bisa jalan-jalan dulu di KL hehehehe. Karena waktu teramat singkat, target kami hanya main ke Jalan Alor di Bukit Bintang. Jalan Alor terkenal karena sepanjang jalan isinya pedagang makanan tok. Ah, worth a visit.

Di sini pun terjadi beberapa pengeluaran yang tak terencanakan, tak diinginkan, tapi jadi bahan pembelajaran. Nah, kita kan cuma bawa dollar, karena mikir tar tukar aja di masing-masing negara yang mau dikunjungi. Eh gak taunya nyampe di Malaysia lebih malem dari perkiraan. Money changer di bandara aja banyak yang tutup, kalo nekat keluar imigrasi bisa gak hidup kita. Akhirnya ketemu juga sih sebuah money changer yang masih buka, walaupun nilai tukarnya jelek (yaiyalah, nuker kok di airport #mengutukdiri). Kami cuma menukar sedikit uang di sana dan berharap bisa menukar lagi di Bukit Bintang.

Pelajaran: selain di bandara, hindari nukar duit di tengah malam gelap, apalagi di money changer gak resmi. Orang pasti mikir, "ini anak ngapain nuker duit tengah malam, lagi butuh banget pasti yaa, bodo-bodoin aah". Gitu.

Jalan Alor
Dari bandara kita naik bus ke KL Sentral (RM 12 perorang) dilanjutkan naik monorail sekitar RM 2. Nah, pas balik ke bandaranya ini.. Udah lewat jam 12 malem kan, udah gak ada public transport beroperasi. Yaudah pake taksi jadinya. Hiks habis RM 85. Itu pun udah pake berdebat sama supirnya.

Awalnya dia setuju RM 50, jadi naiklah kita ke taksi, eh pas di jalan dia bilang “Miss, itu dikit banget lo RM 50. Coba kita jalanin argonya yaa.. pasti nyampe RM 100. Ayolah, Miss..”

Hm. Negara orang. Tengah malam. Di dalem taksi. Kita perempuan. Supir memohon. Kalo gak dikabulkan, aku gak berani membayangkan hal terburuk apa yang mungkin menimpa. Akhirnya kami sepakat dengan RM 85 hahaha. Tapi emang terbukti sih kata si driver hueheheh, maaf ya pak. Tapi bapak juga sih, kan sebelum kita naik udah deal…

PS: kata para pendahulu, naik taksi di sini memang pakai acara tawar menawar walaupun taksi ada argo.

Ah sudahlah.. Memang perjalanan gak boleh terlalu mulus.

Balik ke bandara udah sekitar jam 01.30. Penerbangan kita ke Ho Chi Minh City jam 7 pagi. Jadi kita bobok manis dulu di bandara. Horeee ternyata kami banyak teman alias banyak banget orang yang memutuskan menggelandang di sana. Sampe sulit cari lantai kosong yang enak. Hm jadi ini manfaat dari aku latihan tidur di lantai rumah sakit selama jadi koas. Lantai yang dingin pun rasanya sedap-sedap aja hahaha.

Happy Gembels
Udah sih gitu aja main ke Malaysianya hahaha.

Bersambung ke Vietnam 😊

Friday, October 24, 2014

Ah NTT keren banget! #day4

Finally kita bobok di hotel :')
Di kabin seru juga sih, tapi panes juga, bau bensin juga. Syukur ombaknya gak berasa.

Tapi, tapi, waktu masih di kapal, lautan rasanya tenaang banget. Kayaknya gak ada bedanya sama di daratan. Dan sekarang begitu perjalanan Live on Board ini berakhir, malah tanahnya yang terasa berombak. Puyeng :$

Dan itu berlangsung sampai 3 hari.
Ah itu biasa.

Ya lanjut2. Jadi pagi itu kami sarapan di kamar. Nasi goreng, mie goreng, dsb2 dan jujur aku lebih suka masakan Om Noah. #hai,om #missyourcuisine,om.

Di hari terakhir itu kami berencana mengunjungi Gua Batu Cermin, lalu ke Paradise Bar buat makan siang, trus mampir ke oleh2 sebentar, dan kemudian balik ke Denpasar di sore hari.

Oke, ini review sedikit ttg Mirror Stone Cave alias Gua Batu Cermin!





Perjalanan ke sana gak lama dari Hotel Pagi. Kayaknya Labuan Bajo ini memang kecil, jadi semua tempat deket2 aja rasanya.

Well, ini adalah pengalaman pertamaku menjelajah gua dan menurutku ini menarik banget. Di dalam bener2 gelap gulita, merinding membayangkan ada ular, kelelawar, tarantula, atau binatang2 tak menyenangkan lainnya. Tapi ternyata semua aman2 aja.





Sebelum masuk, kita dipakein topi kayak topi insinyur gitu. Memang berguna banget, karena kepala ini sangat suka menabrak langit2 gua. Trus masuk deh ke dalam pelan2 ditemenin abang2 penjaga gua (apa ya istilahnya? Hmm tour guide).

Konon menurut para peneliti, gua ini dulunya duluuu banget ada di dasar laut. Itu dibuktikan dg dinding2 batunya yg memang kebanyakan menyerupai terumbu karang dll yg normalnya ada di laut. Bahkan ada batu di langit2 yg miriiip banget sama penyu. Kayak fosil penyu yg nempel di langit2 gua gitu. Trus banyak juga kristal2 yang menempel di dinding gua, katanya (kalo gak salah ya) sisa garam, bekas garam, tanda garam, ya apalah namanya itu yg intinya mau bilang, gua ini dulunya emang di dasar laut loh..

Dan ada satu lagi yg hebat. Kita ditunjukin sama si om, di langit2 gua ada cahaya yg bersinar yg berbentuk seperti seorang wanita berkerudung, sedang berdiri sambil mengatupkan tangannya di depan dada. Dan orang sana percaya, itu mirip banget sama Bunda Maria. Luar biasa ya :)

Trus kenapa dibilang Gua Batu Cermin?
Jadi kalo lagi musim hujan, gua itu bisa kebanjiran dan orang jadi gak bisa masuk. Tapi ada suatu sudut di gua itu yang bisa diintip dari atas (dari luar), dan kalo kita lihat dari sana pas guanya lagi banjir gitu, seperti memancarkan sesuatu. Apa ya waktu itu dibilang. Cahaya? Bayangan? Udah gak inget. Salah sendiri nulis blognya 2 bulan setelah kejadian :|

Yah pokoknya dari sanalah asal usul nama gua berasal.



Selesai main di gua, anak2 pergi makan siang di Paradise Bar.
Tempatnya kayak tempat anak rasta2 gitu.

Makanannya yg paling enak sampe kita nambah itu cumi telur asin seingetku. Top pokoke :9



Kece ya tangganya. Ada kakinya mbak dwi

Kulit udah agak eksotis. Lumayan bekerja juga tanning oilku ♡



Kenyang makan seafood (lagi), perjalanan yg indah ini pun harus berakhir. Hiks. Padahal udah lewat 2 bulan nok (logat balinya muncul). Tapi menceritakan kembali liburan-saat-gak-liburan ini menimbulkan nostalgia yg menyenangkan dan sedih juga saat sampai di bagian terakhir :(

Yah sore itu kami diantar ke tujuan terakhir kami di Labuan Bajo, yaitu airport. Hiks. Eh enggak deng, masih singgah di toko oleh2 pas depan bandara buat beli kaos si komo. Btw si Alan beli pajangan komodo juga yg harganya 375 rb. Ih sinting. Eh enggak, bagus lan, membantu pariwisata Indonesia.

Okokee sekian review perjalanan yg membahagiakan ini.

Kesimpulan yg kutarik dari Komodo Islands Trip bareng temen2 ini ada 2 besar:

1. Jalan2lah selagi muda. Ada waktu dan ada tenaga
2. Alam Indonesia emang kece banget! Gak sabar pergi ke belahan lain negara ini!

Sekian. Selamat bobok. :)

Wednesday, October 22, 2014

Ah NTT keren banget! #day3

Mumpung sedang malam minggu dan lagi berantem sama pacar, oke kita lanjutkan saja review hari ketiga keliling2 Komodo Islands. Fufufu :3

Nah, jadi Om Noah pagi2 buta udah membangunkan kami berenam utk disuruh mendaki bukit tertinggi di Gili Lawa itu.
Sebenarnya sungguh amat males lagi2 trekking, subuh2 pula. Tapi nyesel banget pasti kalo sampe gak naik.

Dan treknya (sudah kuduga) lagi2 susah, bung. Apa aku yg kelewat cupu kali ya. Mungkin krn belum ngisi perut sama sekali juga. Pokoknya itu tremornya maksimal deh :|

Tapi kembali lagi, saudara2, perjuangan dibayar dg pemandangan yg spektakuker! Ah Gili Lawa kece banget! Emang Indonesia indah banget! Tuhan baik banget ya sama kita =))




Apalagi ngeliatnya bareng kamu :*

Setelah itu turun bukit, aku lebih banyak digandeng (alias dibantu) sama ABK (bukan Alan Budiman Karamoy, tapi anak buah kapal. Hiks).
Gimana ya, bukan gak percaya sama si koko.. tapi daripada mampus menggelinding bukit.. #berartimemanggakpercaya

And then, Om Noah took us to Manta Point tapi kita lagi gak jodoh sama mantanya :(
Tapi pas snorkeling ketemu sama patrick star, trus kita ajakin dia foto bareng deh :D

Kita dan anak kita :3

Dari Manta Point, Om Noah nanyain, masih pengen ke Kanawa Island gak?
Pengen, pengen om! XD

Nah nah, Kanawa itu kayaknya private island dan satu2nya pulau yg ada penginapannya sejauh yg kami kunjungi selama 3 hari ini. Krn private, jadi kapal gak bisa sembarangan nyender.
Kami pun didrop gitu dan Om Noah pergi jalan2 dulu selagi kami menikmati Pulau Kanawa :)

Kanawa ini airnya jernih banget. Look at these pictures. They were taken in Maldives or Indonesia? :3



Kokoronotomo

Pulau Kanawa adalah pulau terakhir yg kami kunjungi bareng Om Noah. Dari Kanawa langsung balik deh ke Labuan Bajo.
3 days-2 nights Live on Board udah selesai. Hikshiks.
Makasih banyak, Om Noah. The trip was really really amazing :')

Di pelabuhan, kami menyewa mobil angkot buat nganterin ke tempat makan dan ke hotel. Supir angkotnya minta 200rb, dan ternyata kedua tempat yg mau kami tuju itu deket. Hmm okelahh, mungkin itu harga normal utk ber6 ya?

Thennn we had seafood for dinner yeayyy! :9 :9



Dengan perut kenyang, malem itu kami bobok di Hotel Pagi sambil menantikan petualangan hari berikutnya ♡

Saturday, September 20, 2014

Ah NTT keren banget! #day2

Pagi2 saat terbangun, kapal udah meninggalkan Pulau Kalong menuju Pulau Padar. Jadi sebenarnya, Pulau Padar gak masuk rute krn itu biasanya dimasukkan buat trip 4 hari, sedangkan kita cuma 3 hari. Tapi malem kemaren Febri sama Hans udah bujuk2in Om Noah biar ke Padar.

Dan itu alhamdulilah banget :3

Karena inilah Pulau Padar...



Di foto itu, sebelah kanan kita bisa liat pantai pasir putih, kiri bawah pantainya pasir item, dan pojok kiri atas pasirnya pink!
Tiga pantai dengan warna pasir berbeda dalam satu lapang pandang! How amazing kan?

Treknya sebenarnya nyante buat orang normal. Kalo agak manja kayak aku, susah juga. Turunnya pake acara berantem sama koko, pake acara nangis, pake acara ngancem gak mau turun #bego. Drama lah pokoknya. Hahahaha



Cece Dwi sedang memohon jodoh dari langit. Semoga segera dipertemukan. Aminnn

Di foto2 itu kami terlihat hanya ber5. Siapakah yg hilang??
Iya, Cila. Sayang sekali dia memilih utk bobok di kapal..... :(

Balik ke kapal, udah ada jus ditemenin nasi goreng. Horeee!
Sambil makan, kami sambil pamer foto ke Cila :p

Tujuan selanjutnya adalah Pink Beach. 

Keren ya fotonya? :3
Difotoin sama si koko dengan penuh cinta kayaknya. 

Yang aku pegang di foto itu adalah karang merah. Butiran2 karangnya menyatu dengan pasir dan jadilahh Pink Beach yang kece :9

Sayangnya snorkelingnya kurang oke. Mungkin bisa oke sih kalo lebih ke tengah, tapi ombaknya agak kenceng. Mungkin bisa oke kalo kita diturunin langsung di spotnya aja dari kapal, tapi om sampannya bilang mesti turun di pantai. Au ah yang penting cang sempat foto kece huohohoho

Dari pink beach, kami menuju pulau paling bekennn dari semua pulau yg kami kunjungi saat itu: Pulau Komodo!

Siapa gak kenal Pulau Komodo? Skrg udah masuk Keajaiban Dunia loh :D

Dan apa yang kami lakukan di pulau keajaiban dunia itu? Tararaaahh.... Numpang sinyal! Wow amazing. Kami bahkan gak turun dari kapal. Jadi menginjakkan kaki di Pulau Komodo pun sebenarnya kami belum pernah hahahaha

Tapi kami gak merasa rugi. Alasannya?
1. Kami lelah
2. Kami gak kuat trekking lagi
3. Tapi sorenya masih harus trekking di Gili Lawa
4. Kemarin kan udah ke Pulau Rinca
5. Kata orang, Pulau Rinca lebih kece komodo dan viewnya
6. Kami butuh banget sinyaaal :(

Yah begitulah. Jadi di Pulau Komodo malah kami leyeh2 aja di dek kapal. Soalnya udah hampir 2 hari gak ketemu sinyal. Sebagai anak2 jaman sekarang, pasti tau kan gimana rasanya?? Kami lapar, jadi sekarang kami puas2in deh melahap sinyal. #alay. Pokoknya segera laporan ke mama papa, balesin line yg menumpuk, dan mengupload kegembiraan di instagram.

Instagram itu baik. Dengan promosi lewat medsos, kita sudah membantu pariwisata Indonesia. Membantu kerjaan pemerintah juga. Membantu perekonomian bangsa juga. Mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional juga. Hanya dg instagram. Yeah. Ini gak lebay. Sama sekali gak alay. Buktinya banyak bule yang ngelike foto2 kita huohoho

Yak, dan dari Pulau Komodo kami berangkat ke Gili Lawa.
Kata Om Noah, di Gili Lawa ini kita mesti mendaki bukit pendek utk menikmati sunset dan bukit yg tinggiii utk sunrise.
Hiks mendaki lagi. Tapi alhamdulilah, rasa capek dikalahkan rasa takut nyesel kalo gak naik.

Dan ini sunset kami di Gili Lawa ♡



Ada foto yg lebih maknyus sih, tapi lagi males ngambil dari kamera Cece Dwi. Kosnya jauh :p. Yah pokoknya kece lah. Bukit sunset ini juga treknya pendek dan mudah. Aku bisa mandiri, gak dipegangin.

#iloveflores #sekalilagi,iloveflores ♡

-bersambung-

Wednesday, September 17, 2014

Ah NTT keren banget! #day1

Ulala ~
Aku tak sabar ingin berbagi pengalaman menjelajah laut Flores baruuu saja. Baru kemarin balik ke Bali pokoknya. Dan kesanku ttg perjalanan ini adalah, harus lebih sering2 mengexplore alam Indonesia selagi muda!

Jadi, pada suatu pagi yg cerah di tgl 12 September 2014, 4 cewek cuti (cieh cuti) 2 hari dari kampus dan 2 cowok merelakan yudisium. Semuanya demi bertemu si kadal besar, komodo dragon ♡

Kami ber6 naik pesawat TransNusa dari Bali. Pesawatnya kecil gitu, baling2 bambu. Kayak pesawat Lion Makassar - Kendari kalo aku mudik.



Setelah perjalanan yg nyaman (karena bersandar di bahu koko Alan, fufufu) selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya kami tiba di Bandar Udara Komodo - Labuan Bajo. Uyeahhh!

Langsung foto2 di depan tulisan bandar udara komodo, pergi mengambil bagasi dan nyarter mobil. Oh iya, dlm perjalanan kali ini tidak sedikitpun aku mengeluarkan kamera krn semua teman2 yg ikut doyan foto2. Ada yg bawa DSLR, gopro, samsung s5. Yah pokoke aku tinggal bergaya, kadang2 motoin, ngirim ke hp sendiri pake bluetooth, dan share. Nikmat sekali :9

Oke! Tujuan pertama adalah bertemu Om Nuardi.
Om ini adalah kapten kapal tempat kami akan hidup selama 3 hari di atas kapalnya. Iya, perjalanan kali ini adalah pengalaman pertama kami Live on Board ♡

Pak Nuardi dan 2 orang ABK nya udah siap di kapal yg nongkrong rapi di pelabuhan. Kami pun mengangkut semua barang2 ke dalam kapal dan siap mengarungi lautan Flores!



Nah nah, perhentian pertama kapal adalah Pulau Kelor. Pulau ini berpasir putih dan ada bukitnya. Kami disuruh naik ke bukit dan ternyata itu susah! Treknya gak terlalu panjang sih, tapi curamnya itu lumayan bikin stres. Apalagi berpasir. Apalagi aku manja. Argh

Eh tapi ternyata begitu sampai di atas... terbayar bangett nget nget! *biarkan foto berbicara*
Ah gak rugi pokoke celanaku mengepel bukit selama turunan.



Kecenya om nuardi, mengerti banget perasaan konsumen yg lelah lemah tak berdaya. Begitu kami balik ke kapal, udah tersedia aja makan siang prasmanan ala Om Nuardi. Walaupun tampang preman, jangan salah, om nuardi hatinya amat baik dan terlebih jago masak :9 #setidaknyalebihjagodarisaya #tapiemangenakkok #votenuardi



Sambil menikmati hasil karya Om Noah (panggilan gaulnya), kami berlayar menuju Pulau Rinca! Ah ada apa di Rinca? Ah ternyata ada komodo :D

Di pulau ini konon katanya komodo lebih mudah dilihat daripada yg di Pulau Komodo itu sendiri. Pokoke komodonya lebih ramah2 =D



Bersama 2 orang om rangers (pemandu wisata komodo, pawang komodo), kami trekking lagi utk melihat2 Varanus komodoensis. Pertama kali kami menemui dragon lizard ini di bawah dapur orang, ada dua ekor, berbaring (atau duduk? Bertengger? Melata? Apalah istilahnya) dengan manisnya. Mereka diam membisu.

Kami pun foto bareng sama si komo. Lumayan deg degan juga karena dia mulai menggerak2an mata dan kepalanya ke arah kami. Seperti menimbang2 apakah kami cukup lezat untuknya.



Oh iya, fakta komodo dari om ranger, komodo tidak terlalu bereaksi terhadap suara, tapi lebih ke gerakan yg cepat (misalnya kalo kita lari), darah (yg mens jangan coba2 datang), dan warna (terutama merah sama ijo muda terang dan kebetulan sama kayak baju yg aku pake hiiiy)

Sama om ranger, kami juga diajakin ke sarang komodo, melihat emak komodo sedang menjaga telur2nya yg disembunyiin di dalam tanah. Walaupun sekarang menjaga, tapi nanti saat telurnya menetas, emaknya bisa langsung memangsa anaknya. Begitulah si komo. Cantik cantik tapi kanibal.

Selanjutnya kami pergi mendaki bukit yg indah yang kami namakan: Tanjakan Cinta ala Flores! (di Semeru ada Tanjakan Cinta yg sebenarnya, tapi percayalah versi Flores ini juga gak kalah kece).





Dan di balik bukit itu ada ulala! Pemandangan yang oke bingits dari atas tebing, menatap pulau2 yg banyak bingits. Ah, alam Indonesia memang te o pe bingits! #apalagibersamakoko #danteman2kece #komplit!



Dan kami pun kembali ke kapal dg puas dan bahagia lalala~
Eh sampe di kapal udah disambut pisang goreng dan jus pisang segar dari pak Nuardi. Kurang baik apa Tuhan =))

Tujuan selanjutnya adalah Pulau Kalong. Sesuai namanya, di pulau ini banyak kalong aka kelelawar aka paniki. Kalo datang sekitar jam 17.30, katanya bisa lihat kelelawar dalam jumlah besar, membubung ke langit, membentuk formasi, dan pergi dengan cantiknya. Tapi sayang kami kemaleman :( #gara2orangindonesia #orangindonesiakebanyakanfoto2 #jadimolordehapa2.

Akhirnya kami cuma numpang menjangkar kapal, makan malam, dan bobok cakep. Indahnya kehidupan ini membuat kami semua naik berat badan. Tapi tak apalah. #iloveindonesia #iloveflores #ilovemasakanpaknuardi

Okee sekian untuk cerita menjelajah laut Flores day 1. Oh iya, satu tips, siapkan kartu Telkomsel yg berpulsa karena hanya Telkomsel lah yg punya jaringan. #promosisukarela #gakdibayar

Bersambung :)